Tanggapi Banyak Hotel dan Vila Dijual, Graha Wicaksana Soroti Berbagai Persoalan Pariwisata Bali

BADUNG, STATEMENTPOST.COM – Fenomena banyaknya hotel dan vila di Bali yang dijual, belakangan mulai ramai diperbincangkan di berbagai kalangan masyarakat. Situasi tersebut, memunculkan berbagai tanggapan di tengah masyarakat, bahwa penjualan hotel dan vila merupakan dampak kondisi industri pariwisata Bali saat ini yang mengalami penurunan kunjungan wisatawan.
Fenomena tersebut turut mendapat tanggapan dari Pelaku Pariwisata yang juga selaku Ketua Komisi IV DPRD Badung, Nyoman Graha Wicaksana. Menurutnya, fenomena banyaknya hotel dan vila di Bali yang ditawarkan untuk dijual sudah muncul pasca pandemi covid-19. Saat itu, banyak pengusaha tidak mampu bangkit akibat covid-19. Kondisi tersebut dibarengi dengan adanya kebijakan dari perbankan, yang menerapkan prinsip kehati-hatian dan cenderung membatasi pengajuan kredit baru untuk sektor perhotelan, akibat tingginya rasio kredit macet serta beban utang masa lalu yang belum sepenuhnya pulih.
“Saya tidak terkejut dengan fenomena banyaknya properti di Bali yang dijual. Karena, fenomena ini sudah mulai muncul setelah pandemi covid-19. Nah ini, dibarengi juga adanya beberapa perbankan yang menolak untuk pengeluaran kredit atas nama kegiatan usaha perhotelan, dan saya pun juga mengalami itu,” bebernya, Selasa (22/9/2026).
Ia menilai, bahwa perkembangan sektor pariwisata Bali saat ini sudah berada di titik bubble. Hal ini bisa dijumpai dari banyaknya keluhan masyarakat internasional, perihal berbagai persoalan yang dihadapi pariwisata Bali, seperti kemacetan, sampah, hingga tingginya tingkat kriminalitas. Bahkan, tidak sedikit wisatawan yang mulai meninggalkan Bali dan beralih ke daerah lain.
Di samping itu, lanjut dia, tingkat kedatangan wisatawan mancanegara ke Bali justru berbanding terbalik dengan lama tinggal wisatawan (length of stay). Bahkan, ada indikasi yang menyebutkan bahwa Bali hanya dijadikan sebagai persinggahan, sebelum wisman mengunjungi tempat wisata di luar Bali. Atas fenomena tersebut, ia berharap kepada pemerintah agar tidak alergi terhadap kritikan.
Di sisi lain, ia mengapresiasi kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Badung yang telah memberikan atensi serius terhadap pariwisata di Kabupaten Badung. Hal tersebut diwujudkan melalui APBD Kabupaten Badung Tahun 2026 dan 2027, yang memprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur.
“Hal itu membuktikan bahwa Pemkab Badung mengatensi serius berbagai persoalan yang dihadapi pariwisata saat ini. Kita bisa lihat Kawasan Kuta sudah berbenah. Untuk itu, saya menyambut baik upaya pemerintah dalam membenahi sejumlah infrastruktur di Badung,” tambahnya.
Ia juga berharap, agar pihak kepolisian dalam hal ini Polda Bali memberikan atensi serius terhadap tingginya angka kriminalitas di sektor pariwisata. Ia mendorong agar Polda Bali lebih banyak mengerahkan pasukannya untuk berjaga di kawasan pariwisata. Sehingga, hal ini dapat memberikan kenyamanan dan rasa aman kepada wisatawan itu sendiri.
Ia juga mengungkapkan, bahwa investasi perhotelan masih menjadi primadona di Bali. Hal ini dibuktikan dari kunjungan wisatawan ke Bali yang cenderung meningkat. Namun demikian, yang terpenting adalah bagaimana membuat wisatawan lebih lama tinggal di Bali.
“Hal itu kan bisa didata lewat akomodasi pariwisata yang ada di Bali. Namun, yang sering terjadi sekarang masih banyak akomodasi yang tidak memiliki izin. Ini yang mesti didata dulu, sehingga nantinya wisatawan yang datang ke Bali benar-benar terdata dengan baik,” pungkasnya. (stm)
