BaliBudayaNewsTabanan

Peringatan 96 Tahun MWBW, Momentum Perkuat Sradha Bhakti dan Persatuan

TABANAN, STATEMENTPOST.COM – Pengurus Moncol Pusat Maha Warga Bhujangga Waisnawa (MWBW) menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-96 di Vila Banjar Segara, Desa Kelating, Tabanan, pada Minggu (4/10/2026). Peringatan ditandai dengan pemotongan tumpeng dan menjadi momentum mempererat rasa persaudaraan atau pasemetonan, sekaligus meneguhkan kembali sradha bhakti kepada leluhur.

Ketua Umum Moncol Pusat MWBW, Guru Brigjen Pol (Purn) I Gede Alit Widana, mengatakan peringatan HUT bukan sekadar seremoni atau sarana membanggakan diri maupun membangun eksklusivitas kelompok. Menurutnya, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk meningkatkan sradha bhakti kepada Bhatara Leluhur serta mengingat kembali pesan dan bhisama yang diwariskan para leluhur. “Kita harus senantiasa mengingat pesan dan bhisama leluhur,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Alit Widana juga memaparkan perjalanan sejarah organisasi. Cikal bakal persatuan pasemetonan Bhujangga Waisnawa telah dirintis sejak 1930 yang dipelopori sejumlah tokoh pendahulu, di antaranya Guru Gede Kemoning Gejer dari Denpasar.

Pada masa itu, pergerakan masih berbentuk ikatan pasemetonan dengan nama Keluarga Besar Bhujangga Waisnawa dan belum terorganisasi secara modern maupun demokratis. Perjuangan tersebut kemudian berlanjut hingga pelaksanaan Mahasabha I MWBW pada 2005.

Mahasabha I menjadi tonggak kebangkitan tata kelola organisasi MWBW yang modern dan demokratis. Melalui struktur tersebut, MWBW membentuk Sabha Ida Rsi sebagai pimpinan tertinggi pemutus, Sabha Walaka sebagai jembatan penghubung antara Sabha Ida Rsi dan walaka atau umat, serta kepengurusan berjenjang kemoncolan mulai tingkat pusat, kabupaten/kota hingga kecamatan.

Menurut Alit Widana, hingga kini MWBW telah mencatat sejumlah capaian strategis. Di antaranya legalitas sebagai organisasi sosial keagamaan melalui Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, standardisasi pedoman Ilikita mengenai tata cara Ekajati menuju Dwijati, serta penguatan literasi dan purana melalui penulisan sedikitnya 37 purana di seluruh Bali.

Menghadapi tantangan ke depan, Alit Widana mengajak seluruh semeton tidak terjebak dalam perdebatan mengenai perbedaan maupun isu dari luar yang berpotensi memecah persatuan organisasi. Ia menekankan pentingnya menjadikan kajian naskah lontar dan tuntunan sastra ke griya wed sebagai dasar dalam membangun organisasi.

“Mari kita tingkatkan kerapatan dan keharmonisan, baik di tingkat walaka maupun kesulinggihan. Tidak perlu lagi memperdebatkan hal-hal yang memicu keretakan. Jika ingin memperdalam wawasan, kembalilah pada kajian lontar-lontar di griya kita sendiri dan petunjuk para guru, bukan dari asumsi luar,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Sabha Ida Rsi, Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Arimbawa Puja Segara mengatakan, HUT ke-96 hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai pertambahan usia organisasi. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi ruang untuk mulat sarira dan mengingat kembali perjalanan organisasi keluarga besar atau pasemetonan Bhujangga Waisnawa.

Menurutnya, penting bagi seluruh semeton untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan, apa yang perlu diperbaiki, sekaligus bagaimana menjaga kebersamaan untuk tahun-tahun mendatang. “Dalam kehidupan menyama braya, yang paling utama adalah rasa pasemetonan. Supaya bisa saling asah, asih, asuh. Kalau ada yang kurang agar bisa saling memaafkan,” katanya.

Ida Rsi Arimbawa Puja Segara menegaskan, keluarga yang kuat bukan berarti tidak pernah memiliki perbedaan. Namun, keluarga yang kuat adalah keluarga yang mampu menjaga kerukunan, komunikasi, dan rasa saling menghargai meskipun terdapat perbedaan.

Kepada generasi penerus, Ida Rsi mengingatkan pentingnya menjaga dan meneruskan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur dan pendahulu. Perkembangan teknologi dan perubahan zaman tidak boleh membuat generasi muda kehilangan nilai dharma, etika, sopan santun, rasa hormat kepada leluhur, adat, budaya, agama, dan semangat menyama braya. “Jangan sampai kita menjadi generasi yang maju dalam ilmu pengetahuan, tetapi kehilangan kebijaksanaan,” ujarnya.

Sulinggih asal Griya Tasik, Ngis, ini juga meminta generasi senior memberikan ruang, bimbingan, dan kepercayaan kepada generasi penerus untuk ikut melanjutkan serta mengembangkan organisasi MWBW. “Semoga di usia yang ke-96 tahun ini Maha Warga Bhujangga Waisnawa semakin kokoh, kompak, semakin harmonis, dan semakin banyak memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, serta agama,” harapnya.

Ketua Panitia HUT ke-96 MWBW, Guru Rai Suarta Waisnawa, mengatakan perayaan tersebut diikuti Moncol Pusat dan Moncol Kabupaten/Kota se-Bali, Sabha Ida Rsi Bhujangga Waisnawa, organisasi kepemudaan Eka Bhuwana Suta, serta Paiketan Pecalang Cakra Bhuwana. Hadir pula perwakilan pengurus Moncol terdahulu.

Ia menjelaskan, pendanaan kegiatan berasal dari punia semeton Bhujangga Waisnawa. Karena itu, pihaknya menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur atas partisipasi dan dukungan yang diberikan sehingga rangkaian peringatan HUT ke-96 dapat terlaksana.

Selain itu, Ketua Umum Moncol Pusat MWBW juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, para tokoh, donatur tetap, dan relawan yang secara konsisten bergotong royong mendukung penyediaan sarana prasarana, operasional piodalan di berbagai pura, hingga pelaksanaan peringatan HUT ini.

Peringatan HUT ke-96 tersebut sekaligus menjadi momentum bagi seluruh jajaran pengurus dan semeton MWBW untuk memperkuat persatuan, menjaga warisan leluhur, serta membawa organisasi menuju masa depan yang unggul, berdaulat, dan berlandaskan ajaran agama. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *