Serangkaian Pujawali di Pura Samuan Tiga, Dilaksanakan Tradisi Penting “Nampyog dan Siat Sampian”

GIANYAR, STATEMENTPOST.COM – Tiga hari setelah Puncak Karya Pujawali di Pura Samuan Tiga, Bedulu, Gianyar, dilaksanakan tradisi Siat Sampian (Perang Sampian) dengan menggunakan rangkaian janur oleh Parekan (pengayah laki-laki) dan Permas (pengayah perempuan), Selasa (5/5/2026). Ratusan parekan dan puluhan permas saling lempar dan pukul menggunakan rangkaian janur yang telah disiapkan sebelumnya.
Prosesi Siat Sampian diawali dengan “Nampyog”, yakni para permas sebanyak 87 orang berjalan mengelilingi halaman madya mandala pura sambil menari sederhana atau disebut Tari Sutri. Nampyog dilakukan selama tiga kali, dan gerakannya selalu berubah. Selama berkeliling, pinggang permas diikatkan selembar selendang putih secara sambung-menyambung oleh para permas di barisan berikutnya atau disebut proses “Ngober Nyambung”.
Seusai prosesi ngober nyambung, disusul “Maombak-ombakan”, yakni para parekan sebanyak 480 orang saling berpegangan satu sama lain mengelilingi halaman pura. Parekan saling berpegangan berputar selama tiga kali disertai dengan teriakan-teriakan. Mereka pun berusaha agar dapat memegangi bangunan suci yang ada di pura. Prosesi ini disertai dengan tetabuhan yang menambah semangat parekan dan permas untuk memulai Siat Sampian.
Puncaknya, para parekan saling lempar sampian yang sudah disiapkan. Mereka kemudian saling pukul serta melempar sebagai simbol perang dengan menggunakan janur selama lebih-kurang 15 menit.

Manggala Karya, I Gusti Ngurah Made Serana mengatakan, bahwa pemilihan jero permas dan parekan tidak dilakukan secara sembarangan. Pemilihan jero permas dan parekan ini harus melalui rangkaian upacara sebelum mengikuti tradisi Nampyog dan Siat Sampian.
Lebih lanjut Ngurah Serana menjelaskan, bahwa makna dari tradisi ini yaitu suatu persembahan gerak suci terhadap keagungan Ida Bhatara yang berstana di Pura Samuan Tiga. “Pada abad ke 9-10 terjadi perbedaan keyakinan dan pemahaman di Bali. Pada saat itu, Mpu Kuturan mampu menyatukan perbedaan tersebut di Pura Samuan Tiga ini. Saat itu, ada sembilan sekte atau perbedaan yang mampu disatukan Mpu Kuturan di tempat ini. Dengan kekuatan besar beliau di Pura Samuan Tiga ini, maka dipersembahkan tradisi Nampyog dan Siat Sampian,” jelasnya.
Sebelum melaksanakan tradisi Nampyog dan Siat sampian, para permas dan parekan terlebih dahulu melakukan biakaon di Pura Batan Manggis. Usai Siat Sampian, seluruh parekan masiram di beji yang mempunyai makna penyucian diri.
Selanjutnya, dilakukan prosesi Ida Bhatara Kahyangan Tiga tedun mapurwa daksina dan budal. Sementara, Ida Bhatara Samuan Tiga dilanjutkan dengan prosesi “Ngentos Sekar”. Pujawali Pura Samuan Tiga nyejer sampai dengan tanggal 13 Mei 2026 dan mesineb tanggal 14 Mei 2026. (stm)
