Sumpah Pemuda di Era digital, Arthanegara Sebut Perkembangan AI Jadi Tantangan Generasi Muda

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober bukan sekadar perayaan sejarah, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang komitmen kebangsaan.
Ikrar yang dicetuskan oleh para pemuda pada tahun 1928 tersebut menjadi tonggak penting dalam menyatukan keberagaman suku, ras, dan agama di Nusantara demi cita-cita kemerdekaan. Semangat ini kini menghadapi tantangan baru seiring pesatnya perkembangan teknologi digital.
Menurut Akademisi yang juga Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali, Drs. I Gusti Bagus Arthanegara, S.H., M.H., M.Pd., hari Sumpah Pemuda merupakan rangkaian sejarah yang tidak bisa terlepas dari masa lalunya. Seperti berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908, yang juga diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.
“Rangkaian peristiwa ini merupakan sumber terwujudnya Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Sejarah itu terus berulang dari satu masa ke masa yang lain. Sehingga, keistimewaan Kemerdekaan RI merupakan hasil dari perjuangan bukan hadiah,” ungkap Arthanegara, Senin (19/10/2026).
Lebih lanjut Arthanegara menjelaskan, bahwa sejarah dari satu peristiwa memang tidak bisa terulang, tetapi dari sejarah tersebut mengajarkan suatu bangsa arti dari perjuangan dalam merebut kemerdekaan. Dengan semangat persatuan, pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda mendeklarasikan Sumpah Pemuda dengan Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indonesia.
“Dengan semangat generasi muda terbakar dan melanjutkan perjuangannya untuk meraih kemerdekaan maka lahirlah 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan. Kemudian, semangat perjuangan tersebut dilanjutkan sehingga lahirlah peristiwa 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan,” tambahnya.
Arthanegara menyebutkan, perjuangan di zaman dahulu dengan sekarang tentu berbeda seiring perkembangan zaman. Saat ini, kata dia, tantangan generasi muda yaitu perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat. Sebab, jika generasi muda tidak bijak menggunakan media sosial, maka akan bisa mencelakakan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat khususnya generasi muda mesti mewaspadai keberadaan AI (Artificial Intelligence). Sebab, AI tidak hanya membuat masyarakat menjadi cerdas, tetapi juga mengakibatkan masyarakat menjadi culas.
Sumpah Pemuda mengajarkan nilai-nilai fundamental seperti persatuan, toleransi, dan kebanggaan nasional. Nilai-nilai ini harus terus ditanamkan agar remaja tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus informasi.
Menjadi pemuda yang modern, berarti mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi sambil tetap teguh memegang akar kebangsaan.
Oleh karena itu, peringatan Sumpah Pemuda seharusnya menjadi momentum bagi seluruh remaja Indonesia untuk kembali merenungkan ikrar luhur tersebut.
“Keistimewaan kita di Indonesia yaitu memiliki Kementerian Agama, yang tidak semua negara memiliki Kementerian ini. Ini artinya, bahwa di dalam menghadapi tantangan IT, kita sudah mempersiapkan diri, dengan tidak melupakan ajaran agama dan juga kebudayaan,” pungkasnya.
Di sisi lain, era digital juga membuka peluang yang luar biasa bagi remaja untuk mengaktualisasikan semangat Sumpah Pemuda. Platform digital dapat menjadi wadah bagi kreativitas, kolaborasi lintas daerah, dan penyebaran pesan-pesan positif tentang toleransi dan kebangsaan.
Semangat persatuan dan gotong royong dapat diwujudkan melalui kampanye-kampanye sosial di media sosial, gerakan sukarela berbasis komunitas online, atau bahkan pengembangan startup yang fokus pada solusi masalah sosial di Indonesia. (stm)
