Publik Menata Ruang Publik: Bersama Warga Melukis Jalan untuk Ruang Sanur yang Lebih Hidup dan Atraktif

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Kebutuhan ruang publik sebagai ruang ketiga menjadi pembahasan dalam Diskusi “Publik Menata Ruang Publik” yang berlangsung di area Pantai Segara Ayu, Sanur, Denpasar. Ruang publik menjadi ruang yang seharusnya dapat diakses oleh seluruh kelompok tanpa terkecuali. Diskusi ini mengangkat pentingnya keberadaan ruang publik sebagai bagian dari kehidupan perkotaan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat beraktivitas, tetapi juga sebagai ruang untuk berinteraksi, membangun relasi sosial, berekreasi, dan memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat.
“Sepertiga lahan terbangun di Kota Denpasar adalah jaringan jalan, namun jalan saat ini belum baik-baik saja karena angka kecelakaan di Kota Denpasar dari tahun 2022 dan 2024 naik 2,5 kali lipat. Banyak anak kehilangan jalan sebagai ruang aman dan ini perlu menjadi perhatian bagaimana kita akan mendesain ruang untuk anak-anak,” Ungkap Dini Amatullah, Transport and Urban Design Specialist WRI Indonesia.
Ruang publik seharusnya menjadi ruang bersama yang dapat diakses oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa terkecuali. Namun, keberadaan ruang publik tidak cukup hanya dilihat dari ketersediaan fisik, tetapi aspek aksesibilitas, keamanan, kenyamanan, inklusivitas, serta kebebasan masyarakat untuk menggunakan dan beraktivitas di dalamnya juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Ruang publik yang baik adalah ruang yang mampu mengakomodasi beragam kebutuhan masyarakat, mulai dari anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, hingga kelompok masyarakat dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda.
Dini juga menambahkan, bahwa transformasi ruang dengan reka ruang taktis (tactical urbanism) dapat menjadi alternatif solusi yang cepat, murah, lebih mudah, dan bersifat sementara sehingga dalam prosesnya dapat dievaluasi. Area yang menjadi lokasi reka ruang taktis berada di depan Pura Dalem Segara Desa Adat Intaran dan Warung Men Weti, yang sebelumnya merupakan ruang parkir kendaraan dan kini ditata serta difungsikan menjadi zona suci dan ruang publik yang dilukis bersama. Hasil dari reka teknis ini bisa dievaluasi setelah berjalan beberapa bulan sebagai bagian proses pengujian.
Hal senada juga dijabarkan oleh Deliani Poetriayu Siregar, Deputy Director ITDP. Delia menyatakan bahwa intervensi ruang jalan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan aktivitas. “Intervensi lebih ke ruang jalan akan berpengaruh pada aspek keselamatan. Reka jalan “share street” akan memberi ruang yang lebih lega, utamanya bagi anak-anak,” ungkapnya.
Penerapan tactical urbanism dapat menjadi tantangan apabila belum disertai dengan indikator pemantauan dan evaluasi yang jelas. Oleh karena itu, perlu ditetapkan mekanisme evaluasi berkala, misalnya setelah tiga bulan implementasi, untuk meninjau efektivitas intervensi, mengidentifikasi aspek yang perlu disesuaikan, serta memperjelas pembagian peran dan tanggung jawab setiap pihak yang terlibat. Pada dasarnya, tactical urbanism merupakan pendekatan untuk menguji desain dan pemanfaatan ruang secara temporer sebelum diterapkan secara permanen.
Melalui pendekatan partisipatif, proses ini membuka kesempatan bagi berbagai kelompok untuk terlibat secara langsung dalam membentuk ruang publik melalui ekspresi kreatif dan kontribusi bersama, menunjukkan bahwa penataan ruang publik tidak harus selalu berlangsung melalui proses perencanaan yang formal dan eksklusif. Sebaliknya, masyarakat dapat mengambil peran aktif dalam menciptakan ruang yang lebih terbuka, inklusif, dan mencerminkan keberagaman penggunanya.

Reka ruang taktis yang diadakan di Pantai Segara Ayu, Sanur tidak hanya berupa pengecatan, tetapi juga dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan keliling dan area bermain anak. Proses pengecatan berkolaborasi dengan Seniman Slinat & Monox serta Pemuda dan Bupda Intaran, anak-anak, dan masyarakat yang melintas yang berminat untuk turut berkontribusi menorehkan warna. Area tidak hanya mengalami perubahan secara visual, tetapi juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkolaborasi dan menyampaikan gagasan mengenai ruang yang mereka inginkan lewat partisipasi bermakna.
Ida Ayu Trisuci Arnawati, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kota Denpasar, mengapresiasi kegiatan ini dengan kreativitas pengecatan area publik di Pantai Segara Ayu, Sanur. “Intervensi reka ruang taktis (tactical urbanism) ini tentu memungkinkan secara temporer seperti yang sudah dilakukan, dapat dikolaborasikan (oleh desa adat) juga dengan pemerintah daerah. Untuk memastikan pelaksanaannya memiliki landasan yang jelas dan terdokumentasi secara resmi, diperlukan penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan pemerintah daerah,” ungkapnya.
BUPDA Intaran menyampaikan rasa senangnya atas adanya kejelasan regulasi terkait potensi penerapan reka ruang taktis. Kejelasan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi terbangunnya kolaborasi dan sinergi antara Desa Adat Intaran dan Dinas PUPR Kota Denpasar dalam mendukung penataan ruang publik yang lebih partisipatif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Aktivasi seperti ini sesuai dengan kebutuhan desa adat kami, karena banyaknya alih fungsi dengan adanya pariwisata yang tentu juga menjadi pendapatan masyarakat kami. Dengan itu, kami juga punya urgensi untuk tetap menyediakan ruang terbuka bagi masyarakat yang bisa diakses semua orang. Ide ini menarik bagaimana menata ruang jalan untuk lebih multi-fungsi, bisa tetap berjalan tanpa ada yg bergeser, serta menambah atraksi di Sanur,” unggkap Anak Agung Ketut Gede Aryateja, Ketua BUPDA Intaran.
Apresiasi juga diberikan oleh Desak Made Mettayuni, Kepala Bidang Layanan dan Pembinaan Perpustakaan Kota Denpasar. “Saya kagum melihat intervensi dan pergerakan yang dilakukan di sini (Sanur). Bagus sekali ide-ide seperti ini kolaborasi ruang bersama teman-teman komunitas, desa adat, dan anak-anak. Semoga kolaborasi ini bisa juga menambah ruang untuk anak-anak untuk bisa mengekspresikan diri dan menambah minat baca dengan adanya ruang untuk perpustakaan keliling,” ungkapnya.
Peserta yang hadir dalam diskusi publik tersebut menilai, bahwa gerakan reka ruang taktis seperti ini dapat menghidupkan budaya bermain dan berjalan kaki bagi anak-anak. Pendekatan ini memberikan ruang untuk masyarakat terlibat langsung dalam penataan ruang kota yang lebih humanis dan atraktif.
“Saya belum pernah terpikirkan bisa ada diskusi publik di pinggir Pantai ya. Jadi ada aktivitas orang jogging, sepeda, turis jalan-jalan bahkan ada upacara melasti tadi di sini, dan di ruang yang sama kita mendiskusikan mengenai kebutuhan ruang publik dan inovasi reka ruang taktis ini,” Ujar Brahmantya Murti, Akademisi.
“Saya kira semangat untuk penataan Sanur ini sudah memiliki modal awal dari sisi dorongan masyarakatnya, bahkan sejak lama ketika Eco Sanur Movement dilakukan. PR kita semua adalah memastikan inisiatif seperti ini bisa mencegah tergesernya ruang publik untuk masyarakat di Sanur dan menekan gentrifikasi akibat alih fungsi pariwisata,” Tambah Antonio Ismael Risianto, Arsitek/Urban Planner Eco Sanur Movement Together.
Pendekatan Publik Menata Ruang Publik juga menegaskan bahwa masyarakat bukan sekadar pengguna ruang, melainkan bagian penting dalam proses pembentukan dan pengelolaannya. (stm)
