BaliDenpasarNewsPendidikan

Minat Anak Muda Bertani Makin Surut, Prof. Suda Ungkap Empat Faktor Penyebab

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Akademisi yang juga Guru Besar Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Prof. Dr. Drs. I Ketut Suda, M.Si., menilai, bahwa generasi muda zaman sekarang tidak banyak yang tertarik untuk menekuni sektor pertanian. Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan anak muda sangat sedikit untuk menekuni pengembangan sektor pertanian.

Prof. Suda menjelaskan, penyebab pertama yaitu secara sosio-ekologis, anak muda zaman sekarang sangat jarang diperkenalkan mengenai pertanian sejak dini. Sehingga, anak muda enggan menggeluti profesi sebagai petani.

Kedua, lanjut dia, lulusan SMA/SMK hingga Perguruan Tinggi saat ini sering terjebak pada budaya elitis dan priyayi. Kedua budaya ini menyebabkan anak muda gengsi menggeluti dunia pertanian, karena menjadi petani identik dengan pekerjaan yang kotor, dan dari aspek ekonomi tidak terlalu menjanjikan.

Faktor ketiga, yaitu orang tua zaman sekarang tidak banyak yang berharap agar anak-anak mereka menjadi petani sukses. Sebagian besar orang tua menginginkan anak-anaknya lebih sukses dari mereka.

“Bahkan orang tua sering berpesan kepada anaknya, rajin-rajinlah kamu belajar, jangan seperti bapak, jadi petani itu berat. Itu menandakan bahwa orang tua juga tidak menginginkan anak-anaknya bekerja di sektor pertanian,” ucapnya, Selasa (6/10/2026).

Faktor keempat, anak muda yang sedang meniti pendidikan di lembaga formal juga tidak diarahkan untuk mengikuti kegiatan magang di sektor pertanian. Sebagian besar Lembaga pendidikan formal menggiring peserta didiknya untuk melakukan kegiatan magang di dunia industri atau sektor formal.

“Kalau mengacu pada kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), itu kan sebanyak 20 SKS anak-anak harus belajar di luar kampus. Oleh karena itu, tentu ketika orang tidak pernah diperkenalkan dari kecil terhadap kehidupan dunia pertanian, mereka pasti tidak tertarik untuk menekuni bidang itu,” imbuhnya.

Prof. Suda menegaskan, bahwa perubahan zaman ini tentu akan berimplikasi pada persoalan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Ketika masyarakat memiliki lahan yang luas namun tidak adanya regenerasi dalam melanjutkan sektor pertanian, tentu akan menjadi problematika tersendiri. Untuk itu, ia berharap kepada pihak terkait dalam hal ini pemerintah daerah dan pemerintah pusat memfasilitasi masyarakat yang bergelut di sektor pertanian, sehingga mereka tidak berlomba-lomba bekerja di sektor industri.

“Kenapa tidak diciptakan sektor pertanian yang betul-betul menjanjikan, baik dari segi ekonomi, budaya, dan status sosial. Kan itu yang terpenting untuk dilakukan,” tegasnya.

Menurunnya minat generasi muda Bali untuk menekuni sektor pertanian dikhawatirkan menjadi salah satu ancaman serius terhadap keberlanjutan sawah, dan kedaulatan pangan di Bali. Di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi pintu masuk terjadinya alih fungsi lahan pertanian secara perlahan. Kebijakan perlindungan sawah melalui Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) perlu dibarengi dengan regulasi yang memastikan agar generasi penerus bisa dan mampu melanjutkan sektor pertanian. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *