Pemkot Denpasar Berkomitmen Mendukung Sepeda Sebagai Opsi Mobilitas Berkelanjutan

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Para pegiat sepeda hadir dan berkumpul di Graha Yowana Suci, Denpasar, bukan untuk sekadar gowes, tetapi duduk bersama membicarakan mengenai isu sepeda di Kota Denpasar. Momen diskusi ini, menjadi ruang dialog lintas komunitas dan masyarakat sipil yang menaruh perhatian terhadap krisis pilihan mobilitas di perkotaan. Sepeda seharusnya tidak hanya dipandang sebagai hobi atau pun atraksi wisata semata, melainkan sebagai salah satu alternatif moda transportasi yang lebih bisa menjangkau banyak kalangan dan usia, serta lebih ramah lingkungan.
Man Angga, Musisi Nostress menjelaskan, keuntungan yang dirasakan olehnya saat bermobilitas dengan sepeda. “Dengan menggunakan sepeda dan berjalan lebih pelan, saya merasa lebih melekat dengan kota tempat saya tinggal dan mencermati setiap sudut kota, yang tentu tidak kita peroleh dengan berjalan cepat.” ujarnya.
Ia juga menambahkan, bahwa transisi perubahan itu seharusnya muncul dari pengetahuan, bukan berdasarkan tren semata dan dapat dimulai dalam lingkup yang lebih sederhana seperti mempengaruhi lingkungan sekitar untuk mencoba menggunakan sepeda dalam bermobilitas.
Melalui ruang diskusi santai ini, Penerbit Partikular bersama WRI Indonesia dan Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, mengajak para pengguna sepeda dan masyarakat sipil berbagi perspektif di kegiatan Bali Bicara Sepeda dan Ragam Gerakan Sosial Dibaliknya mengenai kondisi saat fasilitas sepeda serta tantangan yang dialami dalam bermobilitas menggunakan sepeda.
I Komang Doni Kurniawan, Denpasar Bersepeda, sebagai pegiat sepeda sekaligus orang yang menggunakan sepeda untuk bekerja memberikan pandangannya mengenai fenomena “saling tunggu” antara pembuat kebijakan dan masyarakat enggan bersepeda sebelum fasilitas penunjang yang memadai dihadirkan terlebih dahulu. “Sepeda ini masih dipandang sebagai rekreasi, media kumpul-kumpul, olahraga, dan lifestyle. Harapannya, perlahan-lahan masyarakat dan pembuat kebijakan mulai sadar dan mulai melirik sepeda sebagai moda transportasi yang bisa menjangkau berbagai tempat, sekolah, dan bekerja.” Ujar Doni.
Berfokus pada kondisi terkini, Muti Kurniasari, GEDSI Analyst dari WRI Indonesia menekankan, rasa nyaman dan aman harus menjadi salah satu indikator dalam perencanaan infrastruktur sepeda, sehingga lebih inklusif bagi kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, maupun kelompok disabilitas Muti juga menambahkan bahwa perubahan itu harus memperhatikan sistem. “Kita bisa belajar dari studi kasus di Amsterdam, gerakan perubahan yang besar bisa bekerja di awal namun gagal di operasionalnya apabila tidak memiliki sistem yang jelas. Transformasi ini tidak cukup hanya pada political will, namun perlu ada dukungan sistem yang memastikan hal ini berlanjut”, ujar Muti.
I Dewa Ketut Adi Pradnyana, Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Denpasar, mengapresiasi kegiatan ini dan mengucapkan terima kasih atas masukan dan pertanyaan yang sudah diutarakan selama kegiatan berlangsung, mendapatkan antusias yang tinggi dari para peserta. Pak Dewa menyatakan bahwa Pemerintah Kota Denpasar berkomitmen untuk membawa isu sepeda ini untuk didorong menjadi mobilitas berkelanjutan di Denpasar. “Dari kami akan membawa isu sepeda ini ke dalam pembahasan di Forum LLAJ untuk kita dukung bersama mobilitas berkelanjutan dan inklusif. Saya berharap setelah dari forum ini, akan ada diskusi-diskusi lebih lanjut yang melibatkan komunitas sepeda serta institusi yang lain dari level pemerintah kota, pemerintah provinsi dan nasional.” Ujar Pak Dewa.
“Sepeda itu bisa memantik pertemuan, pertemuan membentuk solidaritas, solidaritas itu membentuk diskusi, dan diskusi ini nanti akan menciptakan gerakan dan komitmen.” tambah Man Angga Nostress.
Bardha Gemilang, salah satu peserta yang hadir, menambahkan perlu adanya kebijaksanaan dalam merencanakan infrastruktur sepeda yang tidak hanya menyasar komunitas sepeda, tetapi seluruh elemen masyarakat. “Banyak juga kelompok marjinal yang sehari-hari menggunakan sepeda untuk ke pasar atau berjualan keliling. Jadi kita perlu memperlebar pandangan kita supaya tidak melihat sepeda ini sebagai kebutuhan sekunder semata dan memasukkan aspek humaniora.” ujar Bardha
Menghadirkan mobilitas berkelanjutan tidak hanya membangun beberapa meter jalur sepeda, namun komitmen untuk meningkatkan sistem dan memberikan hak ruang jalan yang adil dan inklusif, termasuk pesepeda dan pejalan kaki. Transformasi ruang sepeda yang tidak hanya dapat dinikmati sebagai fasilitas wisata, melainkan sebagai simpul transportasi untuk mendukung produktivitas dan beragam aktivitas masyarakat. Hal ini menjadi poin serius sebagai bagian dari upaya menciptakan mobilitas berkelanjutan dan tindakan nyata menekan emisi karbon untuk mencapai Bali emisi nol bersih. (stm)
