Setahun Berjalan, Tutik Kusuma Wardhani Sebut Program MBG Bermanfaat terhadap Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Demokrat, Tutik Kusuma Wardhani, SE., MM., M.Kes., menilai bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat dibutuhkan oleh masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti balita, anak sekolah (Paud-SMA), ibu hamil, dan ibu menyusui. Hal tersebut diungkapkan Tutik Kusuma Wardhani saat bertemu dengan para wartawan, pada Kamis (30/4/2026), di Rumah Aspirasi, Denpasar.
“MBG ini sangat kita butuhkan. Bahkan, di negara-negara maju pun masih menjalankan program ini. Masih ada pemberian makan siang kepada peserta didik. Karena, memang gizi anak-anak harus diperhatikan, sejak dilahirkan hingga masa pertumbuhan,” ujar Srikandi asal Buleleng ini.
Lebih lanjut Tutik menjelaskan, bahwa setelah resmi diberlakukan pada 6 Januari 2025 hingga April 2026, total Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh Bali berjumlah 228 dapur. Total penerima manfaat program MBG di Bali per April 2026 sekitar 462.139 orang. Sementara itu, tenaga kerja yang mampu diserap sebanyak 11.786 orang.
Selain mampu menyerap tenaga kerja, program MBG ini sangat bermanfaat terhadap pemberdayaan ekonomi kerakyatan, terutama para petani, peternak dan nelayan di desa. “Mereka sudah langsung mendapatkan uang cash dari SPPG. Sehingga, mereka tidak buang-buang waktu lagi membawa hasil produksinya ke pasar. Disinilah akan tumbuh perekonomian yang ada di desa,” tegasnya.
Tutik menambahkan, belum meratanya penyaluran MBG di Bali menyebabkan kecemburuan sosial bagi masyarakat yang belum merasakan manfaat program tersebut. Ia menyebutkan, bahwa Bali membutuhkan sekitar 400 SPPG termasuk wilayah 3T, untuk melayani penyaluran MBG. Dari sisi operasional, juga masih mengalami beberapa kendala. Untuk itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk ikut mengawasi program MBG agar semakin sempurna ke depannya.
“Kondisi geografis juga menjadi kendala bagi pertumbuhan SPPG di suatu wilayah. Seperti di Nusa Penida, saat ini baru ada 2 dapur. Padahal, dengan luas wilayah disana memerlukan sekitar 5 dapur,” tegasnya.
Tutik menegaskan, bahwa program MBG di Bali mampu menggerakan ekonomi lokal dengan perputaran uang mencapai Rp1,39 triliun dalam periode Januari 2025 hingga Januari 2026. (stm)
