BaliDenpasarEkonomiNewsPariwisata

Beri Manfaat Ekonomi Bali, Serapan Produk Lokal Terhadap Aktivitas Pariwisata Harus Ditingkatkan

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Seperti diketahui bersama, pariwisata Bali saat ini sangat digandrungi oleh wisatawan asing. Tingginya kunjungan wisatawan asing ke Bali tentu menjadi peluang untuk kebangkitan produk lokal. Oleh karena itu, belanja wisatawan diharapkan tidak hanya dinikmati oleh pariwisata, tetapi juga memihak kepada produk lokal Bali.

Pengamat Ekonomi, Viraguna Bagoes Oka memaparkan, bahwa hampir 60 persen perputaran uang dari belanja wisatawan asing di Bali justru mengalir keluar pulau, atau dinikmati oleh pihak luar Bali. Fenomena ekonomi yang sering disebut sebagai leakage (kebocoran) pariwisata ini terjadi karena mayoritas sarana, fasilitas, serta komoditas yang dikonsumsi wisatawan tidak berasal langsung dari hulu ekonomi lokal Bali.

Adapun Faktor-faktor utama yang menyebabkan fenomena ini meliputi:

  1. Kepemilikan Modal Besar (Investor Luar & Asing): Keuntungan bersih dari akomodasi ini otomatis ditarik kembali ke kantong pemilik modal di luar Bali.
  2. Ketergantungan Pasokan Bahan Baku Impor: Hotel dan restoran di Bali masih mendatangkan sebagian besar pasokan makanannya, seperti daging premium, sayur-sayuran, buah-buahan, hingga beras dari luar daerah atau impor guna memenuhi standar internasional. Akibatnya, uang belanja makanan turis tidak mengalir ke petani, peternak, atau nelayan lokal Bali.
  3. Budaya Belanja Wisatawan Mancanegara: Wisatawan asing memiliki preferensi konsumsi yang berbeda dengan wisatawan domestik. Mereka cenderung membelanjakan uangnya pada jasa akomodasi dan hiburan, alih-alih membeli oleh-oleh atau produk UMKM kerajinan lokal dalam jumlah besar di pasar tradisional.

“Misalnya fasilitas yang ada di hotel atau vila, itu semua menggunakan barang-barang impor. Begitu juga bahan makanan di restoran, sebagian besar bahan-bahannya dari luar Bali. Apalagi, dengan kehadiran 7 juta wisman ke Bali, maka sudah dipastikan penggunaan produk lokal itu sangat minim,” ujarnya, Selasa (27/10/2026).

Ia menegaskan, bahwa sudah saatnya produk lokal Bali yang ada di masing-masing desa untuk digerakkan secara masif agar bermanfaat terhadap pariwisata. Misalnya, produk kopi dari Kintamani yang kualitasnya tidak kalah dengan kopi dari luar Bali. Produk-produk seperti ini harus lebih intensif ditawarkan kepada akomodasi pariwisata di Bali.

“Seperti salah satu contoh Lempuyang Boutique Hotel yang ada di Tumbu Kelod, Karangasem, dimana hampir 99 persen mereka menggunakan produk lokal. Dan komunitas di desa tentu bisa mensupport produk lokal tersebut. Hal ini tentu sangat luar biasa jika ditiru oleh semua hotel atau vila di Bali,” jelasnya.

Di sisi lain, ia juga berharap dukungan dari pemerintah dalam memfasilitiasi sertifikasi atau labelling terhadap produk lokal Bali. Sertifikasi ini tentu sangat penting untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah, memperluas akses pasar, serta membangun kepercayaan konsumen.

Ia juga menekankan pentingnya mempertahankan dan meningkatkan kualitas dari produk lokal. Sebab, sering kali terjadi saat permintaan pasar meningkat, produsen lokal justru tidak mampu memenuhi dan mempertahankan kualitas daripada produknya. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi para produsen lokal, untuk tetap menjaga konsistensi, kualitas, serta mutu produknya secara stabil dan berkelanjutan.

“Mindset daripada sumber daya manusia (SDM) Bali harus berbasis pada attitude (perilaku), skill (keterampilan), knowledge (pengetahuan), serta profesionalisme untuk menjawab kebutuhan dan kepentingan pasar internasional,” pungkasnya.

Upaya memperbesar serapan produk lokal dinilai penting agar aktivitas pariwisata memberikan manfaat lebih luas bagi perekonomian Bali. Kebutuhan akomodasi pariwisata di Bali dapat menjadi pasar bagi produsen daerah, sepanjang produk yang dipasok mampu memenuhi kebutuhan dari sisi mutu, jumlah, kesinambungan, dan harga. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *