Pariwisata Budaya Harus Dipertahankan, Bagus Sudibya: Jangan Ada Model Lain Masuk ke Bali

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Dewasa ini, perkembangan pariwisata Bali tidak bisa hanya mengandalkan peningkatan kunjungan wisatawan semata. Keberlanjutan pariwisata Bali diharapkan tidak hanya sekadar mengurangi dampak negatif, tetapi mampu membawa dampak positif bagi lingkungan, budaya, dan masyarakat.
Penerapan konsep pariwisata regeneratif atau regenerative tourism dinilai bisa menjadi opsi, untuk memastikan kegiatan pariwisata tidak hanya merusak, tetapi juga mendorong pariwisata ikut memulihkan dan meningkatkan kualitas destinasi.
Menurut Praktisi Pariwisata, Bagus Sudibya, pariwisata regeneratif erat kaitannya dengan sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan). Secara tidak langsung, penerapan pariwisata regeneratif sudah dilakukan dengan marwah budaya Bali. Budaya ini, kata Bagus Sudibya, menjadi daya tarik utama pariwisata Bali.
“Budaya Bali yang unik, tidak bisa disandingkan oleh pariwisata dari luar. Sehingga, banyak wisatawan dari luar sangat tertarik datang ke Bali,” ungkap Bagus Sudibya, Rabu (9/9/2026).
Ia menegaskan, bahwa Bali tidak perlu mencari model pariwisata lain lagi. Sebab, jika hal tersebut dibiarkan tanpa arah, maka dikhawatirkan akan mendegradasi pariwisata budaya itu sendiri. Tatkala, pariwisata budaya yang bernafaskan agama Hindu tidak lagi menjadi komponen utama dalam pengembangan pariwisata Bali, maka peran masyarakat lokal Bali perlahan akan hilang.
“Kita sebagai masyarakat Bali, tentu harus meyakini, menyadari, dan melaksanakan pariwisata budaya itu. Sebab, dengan pariwisata budaya maka investor luar tidak akan bisa masuk untuk mengatur pariwisata Bali,” tegasnya.
Ia juga menyoroti dugaan adanya intervensi-intervensi terselubung, yang ingin ikut mengatur pariwisata Bali. Oleh karena itu, ia berharap agar pemimpin di Bali jangan sampai merubah konsep pariwisata budaya.
“Kita tidak mau ada orang serakah yang ingin memasukan segala macam pariwisata ke Bali. Selama dia bertentangan dengan budaya Bali, saya harap ditolak. Kita harus tetap berpegang teguh pada konsep yang kita yakini itu. Pariwisata budaya yang bernafaskan agama Hindu di Bali,” pungkasnya.
Pada prinsipnya, pariwisata regeneratif bertujuan untuk secara aktif memperbaiki lingkungan, memulihkan ekosistem, dan memberdayakan komunitas lokal, bukan sekadar meminimalkan dampak buruk. Pariwisata ini, juga memanfaatkan kearifan budaya tradisional Bali dalam merawat alam dan ruang hidup. (stm)
