BaliDenpasarEkonomiNews

Sudah Saatnya Bali Miliki Transportasi Massal, Eddy Dharma Putra: ART Opsi Atasi Kemacetan

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung mulai menindaklanjuti rencana pengembangan infrastruktur transportasi massal, sebagai upaya penanganan kemacetan di Bali, khususnya kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan). Salah satu opsi yang kini disiapkan yaitu Autonomous Rail Transit (ART), yang dinilai lebih efisien dibandingkan Mass Rapid Transit (MRT), baik dari sisi biaya investasi maupun teknologi.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama (Dirut) PT Satria Trans Jaya, Ketut Eddy Dharma Putra mengungkapkan, bahwa sudah seharusnya pemerintah mulai mempersiapkan transportasi massal guna mengatasi masalah kemacetan, terutama di wilayah Sarbagita. Menurutnya, mobilitas masyarakat saat ini semakin tinggi, sehingga mengakibatkan kepadatan jumlah kendaraan di hampir semua ruas jalan.

Terkait ART, lanjut Eddy, merupakan suatu langkah yang sangat strategis dari Gubernur Bali, Wayan Koster, dalam menyelesaikan permasalahan transportasi di Bali. Moda transportasi massal dinilai menjadi satu-satunya opsi untuk mengatasi kemacetan di Bali.

“Kita tahu bahwa proyek MRT sempat mangkrak dan belum terealisasi sampai sekarang. Ini mungkin disebabkan oleh biaya investasi yang cukup tinggi. Dengan adanya terobosan ART yang digagas Pemprov Bali bersama Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, merupakan suatu langkah yang sangat bagus untuk jangka panjangnya,” ujar mantan Ketua DPD Organda Bali, Selasa (11/8/2026).

Ia menegaskan, bahwa penyediaan transportasi massal merupakan kewajiban mutlak pemerintah pusat maupun daerah untuk melayani mobilitas masyarakat. Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

“Terlebih Bali sebagai daerah tujuan pariwisata harus didukung transportasi massal yang memadai. Kalau sampai kemacetan ini tidak ditangani, maka wisatawan akan berpindah ke daerah lain. Saya rasa, pemerintah harus serius untuk mewujudkan proyek ART ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Eddy juga menanggapi terkait upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar mengkaji secara menyeluruh keberlanjutan operasional Bus Trans Metro Dewata (TMD). Selaku operator TMD, ia menilai kajian tersebut sangat positif untuk meningkatkan jumlah penumpang (loads factor) TMD, serta memecahkan masalah kemacetan di Kota Denpasar.

“Kajian ini memang harus dilakukan. Sehingga, kita mengetahui kenapa sampai hari ini loads factor TMD belum sesuai harapan,” ungkapnya.

Menurut dia, operasional TMD hingga saat ini belum dilengkapi koneksi trayek seperti “Feeder”, untuk menghubungkan satu rute dengan rute lainnya. Disamping itu, keberadaan halte TMD dinilai masih sangat kurang, sehingga masyarakat kurang tertarik untuk menggunakan transportasi tersebut. Ia berharap, agar pemerintah menambah fasilitas halte yang memadai, untuk memberi kenyamanan kepada masyarakat saat menunggu kedatangan bus.

“Fasilitas halte yang manusiawi baru ada tiga, sementara sisanya masih kurang memadai. Jumlah ini tentu belum cukup. Harapannya, supaya ditambah halte baru sehingga memberi kenyamanan kepada warga yang sedang menunggu bus datang,” pungkasnya. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *