Perkuat Pendidikan Inklusi, Prof. Suarta: Upaya Wujudkan Kesetaraan bagi Anak Berkebutuhan Khusus Tanpa Diskriminasi

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Dewasa ini, pendidikan inklusi di Bali semakin diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, pengukuhan komunitas pendukung, serta penyelarasan regulasi daerah. Langkah strategis ini bertujuan agar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dapat belajar di sekolah reguler bersama anak-anak lainnya tanpa diskriminasi.
Pendidikan inklusi merupakan bagian dari upaya mewujudkan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Selama ini, peserta didik penyandang disabilitas umumnya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Namun, keberadaan SLB tidak selalu tersedia di setiap kecamatan atau wilayah, sehingga akses pendidikan bagi sebagian anak berkebutuhan khusus masih menjadi tantangan.
Menurut Akademisi sekaligus Rektor Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI), Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum., pendidikan inklusi bertujuan untuk memberikan pembelajaran kepada semua anak tanpa terkecuali. Ia menegaskan, semua sekolah wajib untuk menerima semua anak dengan latar belakang berkebutuhan khusus.
“Naskah akademik terkait pendidikan inklusi sebetulnya sudah selesai pada saat sebelum covid. Kami bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Badung saat itu, dan penyusunannya dilakukan di kampus UPMI. Pada dasarnya, sistem pendidikan inklusif ini, memberi pembelajaran yang sama, kelas yang sama, dan di sekolah yang sama kepada semua anak tanpa terkecuali,” tegas Prof. Suarta.
Pendidikan inklusi, kata Prof. Suarta, sekaligus untuk membentuk karakter anak sejak dini, terutama dalam menghargai perbedaan. Termasuk juga menghindari adanya aksi bully atau perundungan di sekolah. Para peserta didik reguler diharapkan memiliki sifat empati dan tolong menolong terhadap ABK.
“Bagaimana melalui pendidikan inklusi ini, kita bisa mengembangkan potensi ABK. Mereka bisa dilatih agar lebih mandiri dan diajarkan bersosialisasi dengan temannya di sekolah,” jelasnya.
Sebagai contoh, lanjut Prof. Suarta, di UPMI juga ditanamkan pendidikan karakter kepada mahasiswa. Selain itu, UPMI sendiri memiliki mahasiswa difabel yang sangat dihargai dengan baik di kampus.
“Kebetulan mahasiswa tersebut berprestasi di bidang olahraga. Dari awal, UPMI tidak pernah membedak-bedakan anak yang difabel. Bahkan, kami menyediakan fasilitas khusus bagi mahasiswa berkebutuhan khusus,” imbuhnya.
Program ini sangatlah bijaksana, sekaligus menghapus diskriminasi dalam dunia pendidikan. Terkait tantangan pendidikan inklusi, bahwa sekolah wajib menyediakan sarana dan prasarana bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus. Sementara itu, tenaga pendidik tambahan sangat dibutuhkan dalam menjalankan program ini.
“Perhatian khusus harus diberikan kepada ABK, dan harus dimaklumi oleh siswa lain. Tenaga pendidik yang dimaksud yakni psikologi khusus dalam menangani ABK,” tutupnya.
Kerjasama antara pemerintah, sekolah, dan warga sekolah menjadi kunci penting suksesnya pendidikan inklusi. Dengan hilangnya stigma kurang mengenakkan terhadap pendidikan inklusi akan membuat tujuan utama, yakni akses pendidikan merata dan berkualitas akan lebih mungkin dicapai. (stm)
