Biaya Konstruksi Naik, Gede Suardita Sarankan Pelaku Usaha Properti Fokus pada Proyek yang Ada

TABANAN, STATEMENTPOST.COM – Melemahnya rupiah memberikan dampak ganda bagi sektor properti di Bali. Sebagai daerah pariwisata, pelemahan ini meningkatkan kunjungan wisatawan asing ke Bali, sehingga berdampak positif terhadap perekonomian Bali. Namun di sisi lain, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar memicu lonjakan biaya konstruksi di sektor properti.
Pelaku Usaha Properti sekaligus Direktur PT. Bumi Cempaka Asri (BCA) Land, I Gede Suardita, Senin (8/6/2026) mengatakan, bahwa biaya konstruksi naik sekitar 20-30 persen, terutama pada material berbasis besi dan semen yang menjadi komponen utama pembangunan rumah. Kondisi ini, dinilai akan memperberat cash flow pelaku usaha dalam membangun proyeknya.
“Bahkan ada sejumlah pelaku usaha yang mengadendum proyeknya, seperti apa penyesuaian biayanya,” ujar Ketua DPD REI Bali periode 2020-2024 ini.
Kenaikan biaya kontruksi, kata Suardita, mengakibatkan pelaku usaha turut menaikkan harga propertinya. Meskipun demikian, pengembang tidak bisa serta merta menaikkan harga jual rumah karena pasar properti di tahun 2026 sedang lesu. Akibatnya, banyak pengembang harus menahan kenaikan harga dan menerima margin keuntungan yang lebih tipis agar produk tetap terserap pasar.
“Meskipun situasi saat ini kita sedang terjepit, sebagai pelaku usaha properti kita harus tetap optimis. Saat ini, kita harus jeli dalam membuat proyek sesuai dengan permintaan pasar,” tegasnya.
Ia juga menyarankan, agar pelaku usaha properti lebih fokus pada proyek yang dijalani saat ini. Jika ingin expand (memperluas) proyek baru, harus tetap memperhatikan likuiditas cash flow perusahaan.
Ia berharap, agar pelaku usaha bisa beradaptasi dengan tekanan yang terjadi saat ini. “Saya yakin para pengembang akan bisa tetap survive menghadapi kondisi saat ini. Mengingat, sebelumnya pernah mengalami krisis saat pandemi covid-19. Dan, saya berharap situasi ini tidak berlangsung lama,” imbuhnya penuh harap.
Lebih lanjut ia memaparkan, bahwa tahun 2024-2025 merupakan masa kejayaan sektor properti di Bali. Pada tahun 2026, kondisi paling berat dialami segmen rumah komersial kelas menengah ke atas. Sementara, segmen rumah subsidi kelas menengah ke bawah masih banyak peminatnya. Namun, pembangunan rumah subsidi semakin sulit dilakukan di kawasan Sarbagita, karena terbentur harga tanah terus meningkat. Bahkan, harga batasan teratas rumah subsidi dari pemerintah pusat tak kunjung naik.
“Saat ini, kita (Kawasan Sarbagita) hanya bermain di segmen rumah komersial yang harganya Rp500 juta ke bawah. Selain itu, para konsumen juga masih bisa diberikan kredit oleh bank, dengan harga rumah di bawah Rp500 juta,” pungkasnya. (stm)
