Melemahnya Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Berdampak Ganda bagi Bali, Ini Penjelasan Viraguna Bagoes Oka

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Pengamat Ekonomi, Viraguna Bagoes Oka, Senin (11/5/2026), menanggapi terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang mencapai Rp17.000 lebih. Melemahnya nilai tukar rupiah ini akan memberatkan ekonomi secara nasional. Namun, kondisi ini memberikan dampak ganda bagi Bali.
Dijelaskan, bahwa suku bunga Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat masih tetap tinggi, sehingga mata uang US Dollar masih bertahan kuat. Sebaliknya, Indonesia dengan kondisi Timur Tengah yang belum kondusif, sehingga mengakibatkan sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi naik. Situasi ini, sekaligus memperlemah mata uang rupiah.
Bagi sektor pariwisata, kata dia, melemahnya nilai tukar rupiah justru meningkatkan daya beli wisatawan asing ke Bali. Namun, bagi masyarakat lokal situasi ini justru menjadi ancaman, mengingat harga kebutuhan pokok akan semakin naik. Selain itu, kunjungan wisatawan domestik juga akan mengalami penurunan akibat daya beli yang semakin turun.
“Saat kebutuhan pokok semakin naik, maka otomatis masyarakat akan melakukan konversi. Misalnya, dari sebelumnya menggunakan gas berukuran 12kg, kemudian beralih ke 3kg. namun, di lain sisi, melemahnya nilai tukar rupiah justru menguntungkan pelaku usaha yang bergerak di bidang ekspor,” ujarnya.
Sementara itu, melemahnya nilai tukar rupiah akan semakin menarik minat investor asing untuk berinvestasi di Bali. Namun sebaliknya, investasi yang sumber dana berasal dari mata uang rupiah akan mengalami tantangan yang sangat berat.
Di sisi lain, ia meminta agar pemerintah mewaspadai investasi yang berasal dari investor asing. Menurutnya, sumber dana yang masuk ke Bali harus benar-benar clean and clear, dalam arti tidak berasal dari aktivitas yang melanggar hukum. Sehingga, perlu adanya seleksi atau perangkat yang bisa menjamin kebersihan sumber dana tersebut.
“OJK dan BI harus betul-betul digaris terdepan untuk memastikan bahwa pencucian uang bisa dihindari, untuk tujuan investasi di Bali,” tegasnya.
Dengan menguatnya mata uang US Dollar, pemerintah perlu mewaspadai keberadaan tenaga kerja asing yang akan masuk ke Bali. Karena, mereka yang bekerja di Bali akan mendapatkan valuta asing, sehingga akan sangat menguntungkan tenaga kerja asing. Termasuk juga pelaku usaha asing yang menggunakan praktik nominee.
“Ini merupakan tantangan serius yang harus diwaspadai. Perbankan juga harus mewaspadai masuknya tenaga kerja asing, yang hanya menguntungkan pihak mereka dan merugikan Bali,” pungkasnya. (stm)
