BadungBaliBudayaNewsSpiritual

Sejumlah Kalangan Menolak Nyepi Kembali Digelar pada Tilem Kasanga, Nengah Sudarsana Sebut Jangan Ada Politisasi

BADUNG, STATEMENTPOST.COM – Pelaksanaan Hari Raya Nyepi direncanakan akan dikembalikan ke waktu asalnya, yakni bertepatan dengan Tilem Kasanga, seperti tradisi sebelum tahun 1981. Sementara itu, sejak tahun tersebut hingga sekarang, Nyepi diperingati sehari setelah Tilem Kasanga atau tanggal apisan sasih kadasa. Wacana tersebut dibahas dalam forum Pasamuhan Agung Sabha Kretha Hindu Dharma Nusantara bersama Gubernur Bali, yang digelar pada Selasa (30/12/2025), di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali.

Menanggapi wacana tersebut, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kecamatan Kuta Utara, I Nengah Sudarsana, Minggu (4/1/2026) menegaskan, bahwa tidak setuju apabila Nyepi dilaksanakan pada Tilem Kasanga. Jika ingin merubah tatanan Hari Raya Nyepi, semestinya Gubernur Bali mengundang seluruh stakeholder untuk duduk bersama untuk membahas hal ini. Menurutnya, pemerintahan terbawah dalam hal ini bendesa adat harus dilibatkan jika berkaitan dengan perubahan tatanan hari raya umat Hindu di Bali.

“Secara prinsip saya menolak (perubahan Hari Raya Nyepi). Kembali lah pada konteks yang sudah biasa dilaksanakan, seperti apa yang sudah tercantum di dalam kalender Bali,” tegas Tokoh Masyarakat asal Desa Canggu.

Sebelum pelaksanaan Catur Brata Penyepian, lanjut Sudarsana, ada rangkaian upacara yang biasa dilakukan oleh umat Hindu di Bali. Mulai dari upacara melasti, yaitu menyucikan pratima ke segara atau pantai. Upacara ini umumnya dilaksanakan tiga hari sebelum Nyepi. Namun, di Desa Canggu sendiri ada istilah upacara melasti Ida Betara ke desa atau Ida Betara parum di desa. Ritual ini biasanya dilaksanakan setelah prosesi melasti ke pantai.

“Tanggal 16 Maret melasti ke segara, setelah itu kembali melasti Pralingga Ida Betara di Bale Agung selama satu hari. Ke esokan harinya dilangsungkan tawur kasanga, dengan ritual pecaruan agung di masing-masing perempatan jalan,” jelasnya.

Pada malam hari setelah prosesi tawur kasanga, dilanjutkan dengan malam pengerupukan yang identik dengan tradisi pengarakan ogoh-ogoh. Ini merupakan suatu tradisi yang ada setelah tahun 1981 dan harus dipertahankan oleh seluruh masyarakat di Bali.

Ia juga berharap, agar wacana perubahan Hari Raya Nyepi jangan terkesan dipolitisasi. Jika ingin merubah tatanan tersebut, adakan paruman agung setahun sebelum pelaksanaan Nyepi, agar masyarakat tidak dibuat bingung. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *