{"id":4162,"date":"2026-07-22T12:48:20","date_gmt":"2026-07-22T12:48:20","guid":{"rendered":"https:\/\/statementpost.com\/?p=4162"},"modified":"2026-07-22T12:48:20","modified_gmt":"2026-07-22T12:48:20","slug":"bedah-buku-rocky-gerung-gubernur-koster-dorong-generasi-muda-rawat-semangat-marhaenisme-di-era-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/2026\/07\/22\/bedah-buku-rocky-gerung-gubernur-koster-dorong-generasi-muda-rawat-semangat-marhaenisme-di-era-digital\/","title":{"rendered":"Bedah Buku Rocky Gerung, Gubernur Koster Dorong Generasi Muda Rawat Semangat Marhaenisme di Era Digital"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-4163 aligncenter\" src=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-08.04.33.jpeg\" alt=\"\" width=\"1500\" height=\"842\" srcset=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-08.04.33.jpeg 1500w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-08.04.33-300x168.jpeg 300w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-08.04.33-1024x575.jpeg 1024w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-08.04.33-768x431.jpeg 768w\" sizes=\"(max-width: 1500px) 100vw, 1500px\" \/><\/p>\n<p><strong>DENPASAR, STATEMENTPOST.COM<\/strong> \u2013 Gubernur Bali Wayan Koster mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk merawat semangat Marhaenisme sebagai landasan berpikir kritis, berkeadilan, dan berpihak kepada rakyat di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Bedah Buku karya Rocky Gerung berjudul \u201cMarhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z\u201d yang dilaksanakan di Auditorium Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar, Selasa (21\/7\/2026).<\/p>\n<p>Kegiatan yang dihadiri ratusan mahasiswa tersebut menghadirkan Rocky Gerung selaku akademisi sekaligus penulis buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z, serta Dr. Airlangga Pribadi Kusman sebagai akademisi dan penulis buku.<\/p>\n<p>Dalam sambutannya, Gubernur Koster mengatakan, bedah buku bukan sekadar agenda akademik, melainkan ruang pencarian makna untuk menjawab pertanyaan besar mengenai relevansi nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa bagi Generasi Z yang tumbuh di era algoritma, media sosial, dan kecerdasan buatan.<\/p>\n<p>\u201cIni adalah forum pencarian makna. Sebuah upaya kolektif untuk menemukan benang merah antara masa lalu yang kaya dengan pengalaman perjuangan dan masa depan yang penuh dengan berbagai kemungkinan baru,\u201d ujar Gubernur Koster.<\/p>\n<p>Menurut Koster, Marhaenisme lahir dari kegelisahan Bung Karno terhadap ketimpangan sosial dan menjadi ideologi kerakyatan yang tumbuh dari realitas masyarakat Indonesia. Kini, melalui buku karya Rocky Gerung tersebut, semangat Marhaenisme diajak untuk dimaknai kembali agar tetap relevan bagi generasi yang menghadapi tantangan zaman yang berbeda.<\/p>\n<p>Gubernur Koster juga menepis anggapan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang apatis dan individualistis. Menurutnya, justru di tengah tantangan pandemi, krisis ekonomi, perubahan iklim, hingga derasnya arus informasi, banyak anak muda tetap menunjukkan kepedulian terhadap isu keadilan, kesetaraan, dan masa depan bangsa.<\/p>\n<p>\u201cKehadiran mahasiswa dalam forum bedah buku seperti ini merupakan bukti bahwa generasi muda masih memiliki semangat untuk berpikir, membaca, berdiskusi, dan mencari jawaban atas berbagai persoalan kebangsaan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia menegaskan, forum akademik seperti bedah buku harus menjadi ruang latihan demokrasi yang sehat, di mana setiap gagasan diuji melalui argumentasi, bukan kemarahan, dan perbedaan pendapat dipandang sebagai kesempatan untuk saling belajar.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Gubernur Koster mengingatkan, bahwa pembangunan Bali tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan nilai, budaya, moralitas, dan harmoni. Prinsip tersebut menjadi landasan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru, yang bertujuan menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta seluruh isinya demi mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera dan bahagia, baik secara sekala maupun niskala.<\/p>\n<p>Menurutnya, semangat bedah buku tersebut memiliki keterkaitan erat dengan implementasi nilai-nilai Sad Kerthi. Melalui budaya membaca dan berpikir kritis, mahasiswa turut membangun Atma Kerthi melalui penyucian pikiran dan jiwa. Melalui kepedulian terhadap sesama, nilai Jana Kerthi diwujudkan sebagai penghormatan terhadap kemanusiaan. Sementara, komitmen membangun dunia yang lebih baik bagi seluruh makhluk hidup merupakan implementasi Jagat Kerthi, yakni menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta.<\/p>\n<p>Gubernur Koster menekankan bahwa Bali membutuhkan generasi muda bukan sebagai penonton pembangunan, melainkan sebagai subjek yang aktif merancang, membangun, dan merawat masa depan Bali. Namun, keterlibatan tersebut harus tetap berpijak pada kearifan lokal yang menjadi identitas Pulau Dewata.<\/p>\n<p>\u201cKearifan lokal Bali bukan berarti menolak modernitas. Justru Bali harus mampu menyerap hal-hal baik dari luar tanpa kehilangan jati dirinya. Nilai-nilai seperti Tri Hita Karana, Tat Twam Asi, dan Menyama Braya harus tetap menjadi fondasi dalam membangun masa depan Bali,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-4164 aligncenter\" src=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-08.04.331.jpeg\" alt=\"\" width=\"1600\" height=\"966\" srcset=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-08.04.331.jpeg 1600w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-08.04.331-300x181.jpeg 300w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-08.04.331-1024x618.jpeg 1024w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-08.04.331-768x464.jpeg 768w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-08.04.331-1536x927.jpeg 1536w\" sizes=\"(max-width: 1600px) 100vw, 1600px\" \/><\/p>\n<p>Pada kesempatan tersebut, Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster turut memberikan sentuhan budaya dengan membacakan puisi berjudul \u201cAgustus\u201d karya Yudhistira Massardi. Penampilan tersebut, mendapat apresiasi dari para peserta dan semakin memperkaya suasana intelektual serta kebudayaan dalam rangkaian kegiatan bedah buku.<\/p>\n<p>Gubernur Koster juga menyampaikan, tiga pesan kepada mahasiswa. Pertama, menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang tidak dapat ditawar di tengah derasnya arus informasi. Kedua, membangun budaya diskusi yang sehat dengan menghormati perbedaan pendapat. Ketiga, mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam kehidupan nyata sehingga nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan keberpihakan kepada masyarakat menjadi pedoman dalam berkarya maupun memimpin di masa depan.<\/p>\n<p>Di akhir sambutannya, Gubernur Koster menyampaikan apresiasi kepada Rocky Gerung atas kontribusi pemikirannya melalui buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z, yang dinilai mampu menghidupkan kembali diskursus kebangsaan di kalangan generasi muda. Apresiasi juga diberikan kepada Universitas Mahasaraswati Denpasar yang terus menghadirkan ruang akademik sebagai tempat lahirnya pemikiran kritis, dialog yang sehat, serta pembentukan karakter mahasiswa.<\/p>\n<p>Gubernur berharap bedah buku tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan budaya literasi, memperkuat tradisi intelektual, serta berkontribusi nyata dalam mewujudkan Bali yang maju, berdaya saing, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya serta kearifan lokal. (stm)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DENPASAR, STATEMENTPOST.COM \u2013 Gubernur Bali Wayan Koster mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk merawat semangat Marhaenisme sebagai landasan berpikir kritis,<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4165,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[24,28,9,6],"tags":[722,720,87,721],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4162"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4162"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4162\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4166,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4162\/revisions\/4166"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4165"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4162"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4162"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4162"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}