{"id":4141,"date":"2026-07-21T10:12:15","date_gmt":"2026-07-21T10:12:15","guid":{"rendered":"https:\/\/statementpost.com\/?p=4141"},"modified":"2026-07-21T10:12:15","modified_gmt":"2026-07-21T10:12:15","slug":"empat-pilar-kebangsaan-penting-diamalkan-untuk-membentuk-generasi-emas-di-masa-depan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/2026\/07\/21\/empat-pilar-kebangsaan-penting-diamalkan-untuk-membentuk-generasi-emas-di-masa-depan\/","title":{"rendered":"Empat Pilar Kebangsaan Penting Diamalkan, untuk Membentuk Generasi Emas di Masa Depan"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-4142 aligncenter\" src=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Snapshot_24-1.png\" alt=\"\" width=\"1920\" height=\"1080\" srcset=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Snapshot_24-1.png 1920w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Snapshot_24-1-300x169.png 300w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Snapshot_24-1-1024x576.png 1024w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Snapshot_24-1-768x432.png 768w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Snapshot_24-1-1536x864.png 1536w\" sizes=\"(max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><\/p>\n<p><strong>DENPASAR, STATEMENTPOST.COM<\/strong> \u2013 Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, penguatan nilai-nilai kebangsaan dinilai menjadi langkah strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) harus dijadikan fondasi utama dalam membangun karakter. Nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya dihafalkan, melainkan harus diterapkan dalam kehidupan nyata.<\/p>\n<p>Akademisi yang juga Ketua Yayasan PT IKIP PGRI Bali, Drs. I Gusti Bagus Arthanegara, S.H., M.H., M.Pd., mengungkapkan, bahwa pembekalan tentang empat pilar kebangsaan sangat mutlak diberikan untuk seluruh masyarakat, terutama generasi yang akan datang. \u201cEmpat pilar ini saling berkaitan dengan yang lainnya. Sehingga, pemahaman ini tidak hanya dibebankan kepada generasi yang akan datang saja, tetapi juga penting untuk dihayati, diamalkan, dan dilaksanakan oleh generasi saat ini,\u201d ujarnya saat ditemui di Kampus Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI), Senin (20\/7\/2026).<\/p>\n<p>Empat pilar kebangsaan, kata Bagus Arthanegara, akan bisa merekatkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab, untuk mewujudkan generasi emas, tentu tidak bisa dilepaskan dari pembentukan generasi saat ini.<\/p>\n<p>Sementara itu, guru memiliki peran yang sangat penting untuk menjadikan generasi yang akan datang tetap teguh memegang empat pilar kebangsaan. Hal tersebut merupakan satu kesinambungan yang perlu dijaga.<\/p>\n<p>\u201cEmpat pilar ini harus kita amalkan. Sebab, kalau kita lengah, maka kita akan terpecah-belah. Hakekat berbangsa dan bernegara itu harus betul-betul kita hayati,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Contoh konkret implementasi Pancasila, dapat dimulai dari hal sederhana seperti menjalankan ibadah sebagai bentuk pengamalan nilai ketuhanan, menghindari perundungan sebagai wujud kemanusiaan, hingga menghargai perbedaan sebagai bagian dari persatuan.<\/p>\n<p>Bagus Arthanegara menambahkan, selain guru, pemerintah dan orang tua juga memiliki peran penting dalam pengamalan empat pilar kebangsaan. Dengan penguatan nilai-nilai tersebut, optimistis generasi muda Indonesia mampu menghadapi tantangan masa depan, termasuk menuju visi Indonesia Emas 2045. (stm)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DENPASAR, STATEMENTPOST.COM \u2013 Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, penguatan nilai-nilai kebangsaan dinilai menjadi langkah strategis dalam<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4143,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[24,28,9,6],"tags":[706,708,709,707],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4141"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4141"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4141\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4144,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4141\/revisions\/4144"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4143"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4141"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4141"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4141"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}