{"id":3510,"date":"2026-05-15T08:07:11","date_gmt":"2026-05-15T08:07:11","guid":{"rendered":"https:\/\/statementpost.com\/?p=3510"},"modified":"2026-05-15T08:07:11","modified_gmt":"2026-05-15T08:07:11","slug":"hendra-utay-luncurkan-resisto-buku-drama-perlawanan-kemanusiaan-dan-kegelisahan-zaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/2026\/05\/15\/hendra-utay-luncurkan-resisto-buku-drama-perlawanan-kemanusiaan-dan-kegelisahan-zaman\/","title":{"rendered":"Hendra Utay Luncurkan \u201cResisto\u201d, Buku Drama Perlawanan, Kemanusiaan, dan Kegelisahan Zaman"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-3511 aligncenter\" src=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-15-at-11.10.39.jpeg\" alt=\"\" width=\"896\" height=\"1117\" srcset=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-15-at-11.10.39.jpeg 896w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-15-at-11.10.39-241x300.jpeg 241w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-15-at-11.10.39-821x1024.jpeg 821w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-15-at-11.10.39-768x957.jpeg 768w\" sizes=\"(max-width: 896px) 100vw, 896px\" \/><\/p>\n<p><strong>DENPASAR, STATEMENTPOST.COM<\/strong> \u2014 Dunia teater dan sastra Indonesia kembali mendapat sumbangan karya sastra melalui terbitnya buku <em>Resisto<\/em>, kumpulan naskah drama karya Hendra Utay. Buku ini diterbitkan oleh Teater Sastra Welang Bali pada Desember 2025, namun baru resmi diluncurkan pada Kamis, 14 Mei 2026 melalui akun sosial media @hendrautay.<\/p>\n<p><em>Resisto <\/em>memuat lima naskah drama dan monolog: \u201cSang Penari\u201d, \u201cDrama 7 Menit\u201d, \u201cSoma\u201d, \u201cMonolog Pidato 7 Menit\u201d, serta satu naskah kolaborasi bersama Gabrielle Abogado berjudul \u201cMata Tilaar\u201d. Melalui karya-karya tersebut, Hendra Utay menghadirkan panggung yang dipenuhi suara-suara kegelisahan sosial: pendidikan yang timpang, budaya yang tergerus, birokrasi yang absurd, hingga manusia-manusia kecil yang berusaha bertahan di tengah perubahan zaman.<\/p>\n<p>Buku ini menjadi istimewa karena naskah-naskah di dalamnya merupakan sebagian karya yang berhasil diselamatkan dari perjalanan panjang proses berteater Hendra Utay. Banyak naskah lain miliknya hilang, tercecer, bahkan lenyap bersama dinamika kehidupan panggung yang dijalaninya selama bertahun-tahun. Karena itu, <em>Resisto<\/em> bukan sekadar kumpulan naskah drama, melainkan juga arsip penting perjalanan artistik seorang pekerja teater yang tumbuh dari panggung ke panggung.<\/p>\n<p>Pada teks sampul buku disebutkan bahwa Hendra Utay memulai perjalanan kesenian teaternya pada awal era 1990-an. Kala itu, atas ajakan seniman teater Bali, Abu Bakar, ia bermain dalam sinetron produksi TVRI\u2014sebuah langkah awal yang memperkenalkannya pada panggung yang lebih luas dan dunia yang tak lagi sama. Sejak saat itu, ia menjelajahi panggung demi panggung, mencicipi asam garam proses pemanggungan dengan penuh dedikasi. \u201cTeater bukan sekadar pilihan hidup, melainkan jalan sunyi yang ditempuh dengan cinta,\u201d demikian narasi yang tertulis pada sampul belakang buku.<\/p>\n<p>Dalam pengantar buku, editor Moch Satrio Welang menyebut karya-karya dalam <em>Resisto<\/em> sebagai perjalanan batin yang bergerak di antara \u201cperlawanan dan kepasrahan, absurditas dan kejujuran manusia yang berdiri di atas panggung hidupnya masing-masing.\u201d<\/p>\n<p>Naskah \u201cSang Penari\u201d menampilkan tokoh Ketut yang terjebak di antara kecintaan terhadap budaya dan kehancuran identitas diri. Sementara \u201cDrama 7 Menit\u201d menghadirkan kritik tajam terhadap dunia pendidikan dan ketimpangan sosial melalui dialog satir dan teatrikal. Adapun \u201cSoma\u201d bergerak melalui monolog seorang manusia pinggiran yang berbicara tentang kemacetan, pariwisata, kemiskinan, hingga keterasingan hidup urban di Bali.<\/p>\n<p>Selain menjadi dokumentasi karya teater, buku ini juga diharapkan menjadi ruang refleksi sosial dan kebudayaan. <em>Resisto<\/em> memperlihatkan bagaimana teater tetap relevan sebagai medium kritik, perlawanan, sekaligus pengingat atas luka-luka masyarakat yang sering terabaikan.<\/p>\n<p>Dengan gaya bahasa yang puitis, satir, sekaligus dekat dengan realitas sehari-hari, Hendra Utay menempatkan teater bukan sekadar hiburan, melainkan ruang dialog yang hidup antara manusia dan zamannya.<\/p>\n<p>Lebih dari sekadar kumpulan naskah, <em>Resisto<\/em> menjadi jejak ingatan tentang panggung, kegagalan, kemarahan, cinta, dan suara-suara kecil yang kerap hilang ditelan riuh zaman. Di tengah banyaknya naskah Hendra Utay yang tercecer dan tak lagi ditemukan, buku ini hadir sebagai upaya menyelamatkan serpihan perjalanan seorang pekerja teater yang hidup bersama lampu panggung, tepuk tangan, sunyi, dan perlawanan.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, <em>Resisto<\/em> mengingatkan bahwa teater bukan hanya soal pertunjukan yang selesai ketika tirai ditutup. Ia adalah cara manusia menjaga nurani, merekam luka, dan mempertahankan suara ketika dunia semakin bising oleh keserakahan dan perbudakan modern. (stm)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DENPASAR, STATEMENTPOST.COM \u2014 Dunia teater dan sastra Indonesia kembali mendapat sumbangan karya sastra melalui terbitnya buku Resisto, kumpulan naskah drama<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3512,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[24,28,9,6],"tags":[284,280,281,282,283],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3510"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3510"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3510\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3513,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3510\/revisions\/3513"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3512"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3510"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3510"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3510"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}