{"id":3444,"date":"2026-05-04T12:00:50","date_gmt":"2026-05-04T12:00:50","guid":{"rendered":"https:\/\/statementpost.com\/?p=3444"},"modified":"2026-05-04T12:12:22","modified_gmt":"2026-05-04T12:12:22","slug":"perkuat-sales-and-marketing-dalam-mempromosikan-pariwisata-bali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/2026\/05\/04\/perkuat-sales-and-marketing-dalam-mempromosikan-pariwisata-bali\/","title":{"rendered":"Perkuat Sales and Marketing dalam Mempromosikan Pariwisata Bali secara Berkesinambungan"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-3446 aligncenter\" src=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Snapshot_20.png\" alt=\"\" width=\"1920\" height=\"1080\" srcset=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Snapshot_20.png 1920w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Snapshot_20-300x169.png 300w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Snapshot_20-1024x576.png 1024w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Snapshot_20-768x432.png 768w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Snapshot_20-1536x864.png 1536w\" sizes=\"(max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><\/p>\n<p><strong>DENPASAR, STATEMENTPOST.COM<\/strong> \u2013 Promosi pariwisata Bali dinilai kurang maksimal karena fokus yang terlalu sempit pada pasar tertentu, kurangnya sentuhan personal ke pasar internasional, serta diperparah oleh pandangan negatif di media sosial mengenai infrastruktur dan kenyamanan.<\/p>\n<p>Menurut Praktisi Pariwisata, Bagus Sudibya, Senin (4\/5\/2026), ada dua hal yang perlu diketahui dalam melakukan promosi pariwisata. Pertama, produk yang belum dikenal oleh pasar harus dikemas dan diperkenalkan dengan cara dipasarkan (<em>marketing<\/em>). Kedua, meskipun sebuah produk sudah dikenal, maka pasar harus tetap diingatkan bahwa produk tersebut masih tetap eksis dengan cara menjual (<em>sales<\/em>).<\/p>\n<p>Dalam menjual produk, lanjut Bagus Sudibya, ada dua cara pendekatan promosi, diantaranya <em>market oriented product<\/em> (produk dibuat berdasarkan kebutuhan pasar), dan <em>product oriented<\/em> (produk sangat diyakini dibutuhkan oleh pasar). Kaitan dengan promosi pariwisata, ia menyebut, bahwa Bali bisa menggunakan dua cara pendekatan tersebut.<\/p>\n<p>\u201cSuatu produk disukai oleh pasar tatkala bersifat menarik, luar biasa, dan unik. Kita mempunyai suatu produk budaya Bali yang bersifat sangat unik. Saat ini, kita juga mulai banyak berkreativitas di sektor kuliner, yang bersifat luar biasa. Selain itu, ada juga produk yang bersifat untuk kesehatan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, negara luar sudah lebih maju dalam hal promosi pariwisata. Karena, mereka benar-benar mempelajari apa yang dibutuhkan oleh pasar internasional. Oleh karena itu, Bali harus tetap yakin dalam memperkenalkan produk kekayaan budayanya, yang tidak dimiliki oleh negara manapun.<\/p>\n<p>\u201cBukan berarti komersialisasi, melainkan ini sebagai daya tarik pariwisata. Namun, harus tetap dengan batasan-batasan tertentu,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Di tengah perkembangan teknologi seperti sekarang, promosi pariwisata harus memaksimalkan pemanfaatan <em>artificial intelligence<\/em> (AI). Pemanfaatan AI dinilai sangat efektif dalam mempromosikan pariwisata saat ini.<\/p>\n<p><em>Sales and marketing<\/em> merupakan suatu alat untuk memperkenalkan suatu produk secara berkesinambungan. Salah satu kegiatan promosi pariwisata yang rutin diselenggarakan setiap tahun oleh ASITA, melalui <em>Bali and Beyond Travel Fair<\/em> (BBTF). Promosi ini sangat bagus, di mana banyak orang bisa bertemu antara <em>business to business<\/em> (B2B) atau <em>business to consumer <\/em>(B2C), saling memperkenalkan produk dan bernegosiasi. (stm)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DENPASAR, STATEMENTPOST.COM \u2013 Promosi pariwisata Bali dinilai kurang maksimal karena fokus yang terlalu sempit pada pasar tertentu, kurangnya sentuhan personal<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3447,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[24,28,9,22],"tags":[232,231],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3444"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3444"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3444\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3450,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3444\/revisions\/3450"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3447"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3444"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3444"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3444"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}