{"id":3396,"date":"2026-04-27T00:39:26","date_gmt":"2026-04-27T00:39:26","guid":{"rendered":"https:\/\/statementpost.com\/?p=3396"},"modified":"2026-04-27T00:39:26","modified_gmt":"2026-04-27T00:39:26","slug":"perlu-kebijaksanaan-dalam-memberikan-penilaian-terhadap-ajaran-tri-kaya-parisudha-di-era-modernisasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/2026\/04\/27\/perlu-kebijaksanaan-dalam-memberikan-penilaian-terhadap-ajaran-tri-kaya-parisudha-di-era-modernisasi\/","title":{"rendered":"Perlu Kebijaksanaan dalam Memberikan Penilaian Terhadap Ajaran Tri Kaya Parisudha di Era Modernisasi"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-3397 aligncenter\" src=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Snapshot_19-19.png\" alt=\"\" width=\"1920\" height=\"1080\" srcset=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Snapshot_19-19.png 1920w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Snapshot_19-19-300x169.png 300w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Snapshot_19-19-1024x576.png 1024w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Snapshot_19-19-768x432.png 768w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Snapshot_19-19-1536x864.png 1536w\" sizes=\"(max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><\/p>\n<p><strong>DENPASAR, STATEMENTPOST.COM<\/strong> \u2013 Sebagai umat Hindu di Bali sudah sepantasnya melestarikan seni budaya Bali. Seperti halnya Tri Kaya Parisudha, sebagai salah satu ajaran dalam Agama Hindu yang mengajarkan tata cara bertingkah laku yang baik dan benar. Tri Kaya Parisudha berarti tiga jenis perilaku yang baik, bersih dan suci. Ajaran Tri Kaya Parisudha meliputi Manacika (pikiran yang baik dan benar), Wacika (perkataan yang baik dan benar), dan Kayika (perbuatan yang baik dan benar).<\/p>\n<p>Menurut Akademisi Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Prof. Dr. I Ketut Suda, M.Si., Jumat (22\/04\/2026), pengamalan Tri Kaya Parisudha di era baby boomers dengan era modernirsasi seperti gen z dan milenial tentu berbeda. Dikatakan, bahwa indikator yang dijadikan tolak ukur baik dan benar tentu berbeda.<\/p>\n<p>\u201cKonsep implementasi Tri Kaya Parisudha antara kalangan baby boomers dengan gen z dan milenial tentu sangat berbeda. Apalagi, bagi gen alpha. Karena, ketika orang berpikir baik dan benar di zaman dahulu, belum tentu dalam konteks kekinian baik dan benar,\u201d ungkap Prof. Suda.<\/p>\n<p>Terlebih di era perkembangan teknologi seperti sekarang, banyak kalangan menggunakan media sosial secara bebas. Bagi kalangan baby boomers, pemanfaatan secara bebas di media sosial sering mengundang kritikan dan dianggap tidak benar. Namun, bagi kalangan gen z atau milenial dianggap baik dan benar. Oleh karena itu, perlu kebijaksanaan dalam memberikan sebuah penilaian Tri Kaya Parisudha, terutama dalam implementasi di masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cPersoalannya tidak sesimpel itu untuk menyalahkan gen z dan milenial. Karena, banyak faktor yang berpengaruh. Saya kira, hal itu yang perlu dipahami oleh semua kalangan. Sehingga, kita tidak serta merta hanya menyalahkan generasi muda dalam menerapkan Tri Kaya Parisudha,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha di era modernisasi saat ini menjadi landasan etika penting bagi umat Hindu untuk menjaga moralitas di tengah gempuran teknologi dan globalisasi. Dengan mamahami dan mengamalkan ajaran Tri Kaya Parisudha, diharapkan umat Hindu dapat mencapai kesucian diri, kebahagiaan hidup dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan. (stm)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DENPASAR, STATEMENTPOST.COM \u2013 Sebagai umat Hindu di Bali sudah sepantasnya melestarikan seni budaya Bali. Seperti halnya Tri Kaya Parisudha, sebagai<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3398,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[24,39,28,9,6],"tags":[205,204,203],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3396"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3396"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3396\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3399,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3396\/revisions\/3399"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3398"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3396"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3396"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3396"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}