{"id":3325,"date":"2026-04-20T12:15:09","date_gmt":"2026-04-20T12:15:09","guid":{"rendered":"https:\/\/statementpost.com\/?p=3325"},"modified":"2026-04-20T12:15:09","modified_gmt":"2026-04-20T12:15:09","slug":"tak-harus-bekerja-di-kantor-kartini-muda-ini-pilih-jadi-petani-dan-kembangkan-usaha-lewat-aplikasi-brimo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/2026\/04\/20\/tak-harus-bekerja-di-kantor-kartini-muda-ini-pilih-jadi-petani-dan-kembangkan-usaha-lewat-aplikasi-brimo\/","title":{"rendered":"Tak Harus Bekerja di Kantor, Kartini Muda Ini Pilih Jadi Petani dan Kembangkan Usaha Lewat Aplikasi BRImo"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-3326 aligncenter\" src=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-20-at-18.54.53-scaled.jpeg\" alt=\"\" width=\"2560\" height=\"1440\" srcset=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-20-at-18.54.53-scaled.jpeg 2560w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-20-at-18.54.53-300x169.jpeg 300w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-20-at-18.54.53-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-20-at-18.54.53-768x432.jpeg 768w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-20-at-18.54.53-1536x864.jpeg 1536w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-20-at-18.54.53-2048x1152.jpeg 2048w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/p>\n<p><strong>TABANAN, STATEMENTPOST.COM<\/strong> \u2014 Sosok Kartini masa kini tak selalu identik dengan ruang kantor atau dunia profesional perkotaan. Di Bali, semangat emansipasi justru tumbuh di tengah hamparan sawah. Generasi muda, khususnya perempuan, mulai menunjukkan bahwa bertani bukan lagi pekerjaan yang dipandang sebelah mata, melainkan pilihan hidup yang menjanjikan dan relevan dengan perkembangan zaman.<\/p>\n<p>Hal itu tergambar dari kisah Ni Putu Meilanie Ary Sandi (23), seorang petani muda yang memilih melanjutkan jejak sang ayah. Meski mengaku awalnya hanya sekadar mencoba, Meilanie kini justru menemukan keseruan dan peluang besar dalam dunia pertanian. \u201cAwalnya saya tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Dulu lebih fokus sekolah dan sempat hidup nomaden di Badung. Tapi sejak pandemi, kami kembali ke rumah dan mulai serius turun ke lahan. Dari situ saya lihat ternyata bertani itu seru,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, bertani saat ini tidak lagi identik dengan cara konvensional yang berat dan kotor. Inovasi sederhana seperti penggunaan mulsa dari jerami atau sekam padi, hingga racikan pupuk organik buatan sendiri, mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas tanaman.<\/p>\n<p>\u201cBapak juga punya formula pupuk sendiri yang disemprot halus seperti embun untuk menjaga kondisi tanaman. Jadi kita bisa lebih efisien tanpa harus bergantung penuh pada pupuk pabrikan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Tak hanya di sektor produksi, Meilanie juga aktif memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran hasil panen. Ia mengandalkan media sosial untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk hotel dan restoran di sektor pariwisata. \u201cSekarang lebih banyak komunikasi lewat media sosial. Kami juga suplai ke hotel dan restoran karena ada relasi yang sudah percaya. Jadi peluangnya terbuka lebar,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Meilanie menilai minat anak muda untuk bertani masih dipengaruhi kebiasaan dan lingkungan. Banyak yang belum merasakan langsung proses dan tantangan di lapangan, sehingga menganggap pertanian kurang menarik.<\/p>\n<p>Padahal, menurutnya, bertani bisa dimulai dari skala kecil, bahkan di perkotaan melalui metode urban farming seperti hidroponik atau penanaman dengan polybag. \u201cKalau sudah merasakan sendiri prosesnya, pasti tahu kalau bertani itu menyenangkan. Tinggal bagaimana kesadaran masing-masing, apalagi sekarang isu krisis pangan juga mulai terasa,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sebagai perempuan muda, Meilanie juga mengajak generasi sebayanya untuk tidak ragu terjun ke dunia pertanian. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki peran penting, baik sebagai pengelola rumah tangga maupun dalam menjaga ketahanan pangan. \u201cKita sebagai perempuan harus punya dasar pengetahuan itu. Bertani sekarang tidak harus kotor, sudah banyak teknologi yang bisa membantu. Jadi jangan takut jadi petani,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Dalam pengembangan usahanya, Meilanie juga merasakan pentingnya dukungan sektor perbankan. Ia mengaku terbantu dengan akses layanan keuangan digital, salah satunya melalui aplikasi BRImo yang memudahkan transaksi dan pengelolaan keuangan. \u201cSekarang saya pakai BRImo. Simpel dan lengkap fiturnya, jadi memudahkan untuk kebutuhan operasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Ia berharap ke depan perbankan dapat terus memberikan dukungan bagi petani, terutama dalam hal permodalan dan kemudahan akses layanan keuangan. Dengan kolaborasi antara generasi muda, teknologi, dan dukungan finansial, sektor pertanian diyakini mampu menjadi tulang punggung ekonomi sekaligus ruang aktualisasi bagi Kartini masa kini.<\/p>\n<p>Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menyampaikan bahwa kehadiran BRImo menjadi salah satu bentuk nyata dukungan BRI dalam mendorong inklusi keuangan sekaligus memperkuat peran perempuan di sektor pertanian. \u201cKartini masa kini tidak hanya berperan dalam lingkup domestik, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi, termasuk di sektor pertanian. Melalui BRImo, kami ingin memberikan kemudahan akses layanan keuangan yang dapat membantu petani masa kini dalam mengembangkan usahanya secara lebih modern dan berkelanjutan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa perempuan, khususnya Kartini muda di sektor pertanian, memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional serta pertumbuhan ekonomi kerakyatan di daerah. Oleh karena itu, BRI akan terus menghadirkan inovasi layanan dan program pemberdayaan yang dapat mendorong perempuan Indonesia semakin berdaya, mandiri, dan mampu bersaing di era digital. (stm)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TABANAN, STATEMENTPOST.COM \u2014 Sosok Kartini masa kini tak selalu identik dengan ruang kantor atau dunia profesional perkotaan. Di Bali, semangat<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3327,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[24,43,45,9,33],"tags":[154,80,155],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3325"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3325"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3325\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3328,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3325\/revisions\/3328"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3327"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3325"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3325"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3325"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}