{"id":2932,"date":"2026-03-14T01:37:13","date_gmt":"2026-03-14T01:37:13","guid":{"rendered":"https:\/\/statementpost.com\/?p=2932"},"modified":"2026-03-14T01:37:13","modified_gmt":"2026-03-14T01:37:13","slug":"nuanu-creative-city-soroti-peran-seniman-perempuan-dalam-ekosistem-kreatif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/2026\/03\/14\/nuanu-creative-city-soroti-peran-seniman-perempuan-dalam-ekosistem-kreatif\/","title":{"rendered":"Nuanu Creative City Soroti Peran Seniman Perempuan dalam Ekosistem Kreatif"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2933 aligncenter\" src=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/WhatsApp-Image-2026-03-13-at-19.53.44.jpeg\" alt=\"\" width=\"1600\" height=\"900\" srcset=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/WhatsApp-Image-2026-03-13-at-19.53.44.jpeg 1600w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/WhatsApp-Image-2026-03-13-at-19.53.44-300x169.jpeg 300w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/WhatsApp-Image-2026-03-13-at-19.53.44-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/WhatsApp-Image-2026-03-13-at-19.53.44-768x432.jpeg 768w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/WhatsApp-Image-2026-03-13-at-19.53.44-1536x864.jpeg 1536w\" sizes=\"(max-width: 1600px) 100vw, 1600px\" \/><\/p>\n<p><strong>TABANAN, STATEMENTPOST.COM<\/strong> \u2013 Sebagai sebuah ekosistem kreatif yang mempertemukan seni, inovasi, dan kolaborasi lintas disiplin, <strong>Nuanu Creative City<\/strong> terus menghadirkan ruang dimana berbagai gagasan dan perspektif dapat berkembang. Melalui berbagai platform yang dimilikinya\u2014termasuk ruang seni seperti <strong>Labyrinth Art Gallery<\/strong>\u2014Nuanu membuka kesempatan bagi para kreator untuk bereksperimen, mengekspresikan gagasan, serta berinteraksi dengan publik dalam percakapan kreatif yang lebih luas.<\/p>\n<p>Pendekatan ini juga berangkat dari komitmen terhadap inklusivitas. Ruang kreatif di Nuanu tidak hanya menjadi tempat mempresentasikan karya, tetapi juga ruang pertemuan bagi ide, dialog, dan transfer pengetahuan antara seniman dan publik. Melalui berbagai program, diskusi, hingga interaksi langsung dengan audiens, Nuanu berupaya menjadi platform yang menghubungkan praktik artistik dengan komunitas yang lebih luas.<\/p>\n<p>\u201cDalam ekosistem kreatif, perempuan membawa perspektif yang sangat penting\u2014bukan hanya melalui karya yang mereka hasilkan, tetapi juga melalui pengalaman hidup dan cara mereka membaca dunia. Di Nuanu, kami ingin memastikan bahwa ruang kreatif dapat menjadi platform yang terbuka bagi berbagai suara. Ketika seniman memiliki ruang untuk mengekspresikan gagasan sekaligus berbagi pengetahuan dengan audiens, ekosistem kreatif yang terbentuk menjadi jauh lebih hidup dan relevan,\u201d ujar Ida Ayu Astari Prada, Director of Brand and Communications Nuanu Creative City<\/p>\n<p>Dalam semangat <strong>International Women\u2019s Day<\/strong>, Nuanu menyoroti karya dari dua seniman perempuan\u2014Wicitra dan Sarita Ibnoe\u2014yang saat ini menghadirkan karya mereka dalam pameran <strong>Semburat Bali<\/strong> di Labyrinth Art Gallery yang hadir hingga 22 Maret 2026. Melalui praktik artistik yang berbeda, keduanya menghadirkan refleksi personal tentang pengalaman hidup, lingkungan, serta cara perempuan melihat dan merespons dunia di sekitarnya.<\/p>\n<p><strong>Lanskap Feminin dan Ritme Alam<\/strong><\/p>\n<p>Berbasis di Bali dengan latar belakang desain grafis, praktik seni <strong>Wicitra Pradnyaratih<\/strong> berkembang melalui eksplorasi visual yang memadukan medium digital dan lukisan akrilik. Baginya, seni merupakan cara untuk merespons lingkungan dan kultur di sekitarnya\u2014tidak hanya dari sisi tradisi Bali, tetapi juga dari berbagai pengaruh budaya yang membentuk cara pandangnya.<\/p>\n<p>Dalam praktiknya, Wicitra kerap mengeksplorasi hubungan antara alam, warna, dan suara melalui pendekatan audio-visual. Ia membangun narasi yang ia sebut sebagai <em>feminine landscape<\/em>, sebuah lanskap visual yang menonjolkan sisi organik dan emosional dari alam.<\/p>\n<p>Melalui karya yang ditampilkan di Semburat Bali yaitu <em>Tideglow<\/em> dan <em>Midnight Bloom<\/em>, Wicitra merefleksikan hubungan antara waktu, siklus kehidupan, dan kekuatan yang sering hadir secara sunyi dalam alam. Dalam<br \/>\n<em><br \/>\nMidnight Bloom<\/em>, motif anggrek dan lili muncul sebagai simbol ketahanan dan ketekunan yang tumbuh perlahan di tengah keheningan malam. Terinspirasi dari tradisi seni feminis, representasi bunga dalam karya ini tidak lagi ditempatkan sebagai ornamen pasif yang identik dengan stereotip feminitas, melainkan sebagai penanda kekuatan, individualitas, dan kompleksitas pengalaman perempuan.<\/p>\n<p>Dalam komposisinya, figur bunga tersebut digambarkan berada di tengah arus udara dan air yang dinamis. Meski tampak kecil dan berdiri sendiri, bunga itu tetap berakar kuat\u2014mandiri, bertahan, dan memancarkan kekuatan yang tenang. Di pusat komposisi, bentuk menyerupai mutiara menjadi simbol inti dari daya hidup yang tersembunyi namun terus bersinar.<\/p>\n<p>Bagi Wicitra, pengalaman sebagai perempuan juga turut membentuk cara ia memandang dunia dan menciptakan karya.<\/p>\n<p>\u201cPersoalannya bukan pada kapasitas perempuan, melainkan pada terbatasnya akses dan kesempatan yang seharusnya terbuka bagi siapa pun,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia juga melihat ruang kreatif sebagai elemen penting dalam memperluas akses tersebut.<\/p>\n<p>\u201cKeberadaan platform yang memberi ruang bagi seniman untuk menampilkan karya dan berdialog dengan publik sangat penting. Harapannya, ruang-ruang kreatif seperti ini bisa terus berkembang dan menjangkau lebih banyak seniman dari berbagai latar belakang.\u201d tambah Wicitra.<\/p>\n<p><strong>Menenun Cerita, Merangkai Perjalanan<\/strong><\/p>\n<p>Seniman multidisipliner <strong>Sarita Ibnoe<\/strong>, yang telah berkarya dan berpameran sejak 2013, dikenal melalui praktik artistiknya yang berakar pada tekstil\u2014khususnya teknik tenun. Dari medium tersebut, karyanya kemudian berkembang ke berbagai bentuk ekspresi lain seperti instalasi, performans, hingga karya partisipatori.<\/p>\n<p>Bagi Sarita, proses menenun bukan sekadar teknik artistik, melainkan cara untuk merangkai pengalaman hidup menjadi sebuah narasi visual.<\/p>\n<p>Dalam pameran ini, ia menampilkan sejumlah karya seperti <em>Unaccustomed<\/em>, <em>The New Art Teacher Series \u2013 Non-Technical Skills: Gestures and Watercolour #1<\/em>, <em>Resistance<\/em>, serta <em>Note<\/em>. Karya-karya tersebut merefleksikan perjalanan personal sekaligus respons terhadap berbagai peristiwa sosial yang ia saksikan.<\/p>\n<p>Salah satu karya yang menonjol adalah Resistance, yang terinspirasi dari gelombang gerakan resistensi yang terjadi di Jakarta\u2014sebuah peristiwa sosial yang dalam prosesnya menelan korban jiwa. Melalui karya ini, Sarita menghadirkan refleksi sekaligus penghormatan terhadap peristiwa tersebut. Penggunaan warna hijau dan merah muda menjadi simbol solidaritas dan kekuatan kolektif masyarakat, sebuah penanda bahwa dalam situasi krisis, kekuatan sering kali lahir dari kebersamaan.<\/p>\n<p>Sebagai perempuan yang berkarya di bidang seni, Sarita melihat bahwa kontribusi perempuan dalam ekosistem kreatif saat ini semakin terlihat dan signifikan. Menurutnya, perempuan tidak hanya hadir sebagai pencipta karya, tetapi juga sebagai penggerak berbagai aspek dalam dunia seni.<\/p>\n<p>\u201cPerempuan kini tidak hanya hadir sebagai pencipta karya, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem seni\u2014sebagai kurator, peneliti, pendidik, hingga penghubung komunitas,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Ia juga menekankan pentingnya ruang yang memungkinkan seniman untuk saling terhubung dan berbagi pengalaman.<\/p>\n<p>\u201cRuang seperti ini penting untuk membangun komunitas di antara seniman, untuk berbagi cerita dan saling mendukung. Ketika kita saling terhubung, ekosistem kreatif bisa berkembang dengan lebih sehat,\u201d tutup Sarita.<\/p>\n<p><strong>Ekosistem Kreatif yang Membuka Ruang Perspektif<\/strong><\/p>\n<p>Bagi Nuanu, membangun ekosistem kreatif bukan sekadar menghadirkan ruang fisik bagi praktik seni, tetapi juga menciptakan lingkungan di mana berbagai perspektif dapat bertemu dan saling memperkaya.<\/p>\n<p>\u201cGaleri bukan hanya tempat memamerkan karya, tetapi juga ruang untuk membangun percakapan. Kami ingin memastikan bahwa platform seperti Labyrinth dapat menghadirkan seniman dari berbagai latar belakang dan memberikan ruang bagi perspektif yang beragam\u2014termasuk suara dan pengalaman perempuan dalam praktik seni,\u201d ujar Samuel David, Gallery Manager Labyrinth Art Gallery.<\/p>\n<p>Ketika seniman dari latar belakang yang berbeda memiliki ruang untuk berbagi gagasan, percakapan kreatif yang lahir menjadi lebih dinamis dan relevan dengan dinamika masyarakat.<\/p>\n<p>Melalui ekosistem yang terus berkembang, Nuanu berupaya menghadirkan ruang bagi praktik artistik yang beragam sekaligus mendorong dialog kreatif yang lebih inklusif\u2014di mana berbagai suara, termasuk perspektif perempuan, dapat hadir dan berkontribusi dalam membentuk lanskap seni yang terus bergerak ke depan. (stm)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TABANAN, STATEMENTPOST.COM \u2013 Sebagai sebuah ekosistem kreatif yang mempertemukan seni, inovasi, dan kolaborasi lintas disiplin, Nuanu Creative City terus menghadirkan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2934,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[24,4,41,33],"tags":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2932"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2932"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2932\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2935,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2932\/revisions\/2935"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2934"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2932"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2932"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2932"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}