{"id":1799,"date":"2024-03-31T11:29:04","date_gmt":"2024-03-31T11:29:04","guid":{"rendered":"https:\/\/statementpost.com\/?p=1799"},"modified":"2024-03-31T11:31:35","modified_gmt":"2024-03-31T11:31:35","slug":"minat-wisatawan-semakin-tinggi-destinasi-agrowisata-harus-digarap-serius","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/2024\/03\/31\/minat-wisatawan-semakin-tinggi-destinasi-agrowisata-harus-digarap-serius\/","title":{"rendered":"Minat Wisatawan Semakin Tinggi, Destinasi Agrowisata Harus Digarap Serius"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-1800 aligncenter\" src=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG-20240331-WA0000.jpg\" alt=\"\" width=\"1135\" height=\"1154\" srcset=\"https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG-20240331-WA0000.jpg 1135w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG-20240331-WA0000-295x300.jpg 295w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG-20240331-WA0000-1007x1024.jpg 1007w, https:\/\/statementpost.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG-20240331-WA0000-768x781.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1135px) 100vw, 1135px\" \/><\/p>\n<p>BADUNG, STATEMENTPOST.COM &#8211; Seiring dengan kembali menggeliatnya sektor pariwisata di Bali pasca pandemi covid 19, ada beberapa potensi pariwisata yang mungkin bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata baru di Bali. Salah satunya mengembangkan potensi agrowisata yang saat ini semakin digandrungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.<\/p>\n<p>Sebagai pulau agraris, Bali tentu memiliki berbagai macam potensi pertanian yang dapat dikembangkan sebagai agrowisata kedepannya. Potensi agrowisata ini mesti digarap lebih serius untuk mendatangkan banyak wisatawan. Meskipun sudah mulai ada agrowisata di sejumlah wilayah, menurut Direktur Politeknik OTC bali, I Wayan Rediyasa, SE., M.Tr., Par. Sabtu (30\/3), konsep agrowisata belum digarap secara maksimal. Konsep agrowisata ini sangat identik dengan budaya Bali. \u201cHal ini sangat cocok sekali supaya pertanian di Bali tetap eksis dengan disinergikan dengan pariwisata\u201d, ungkap pria asal desa Kayuputih, Buleleng tersebut.<\/p>\n<p>Lebih lanjut dikatakan, salah satu contoh ide kreatif yang mungkin bisa digarap adalah dengan membuat semacam restoran di tengah lahan pertanian, sehingga memiliki keunikan tersendiri bagi wisatawan yang datang. Hal ini juga sebagai salah satu upaya untuk meminimalisir terjadinya alih fungsi lahan yang semakin marak di Bali. \u201cSawah harus tetap berfungsi sebagai penghasil padi ataupun menghasilkan produksi pertanian lainnya, dengan mengkolaborasikan sebagai destinasi wisata yang menjanjikan kedepannya,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Berbicara mengenai permodalan, lanjut Rediyasa, pemerintah sebenarnya sudah sangat mendukung segala bentuk kegiatan usaha yang dilakukan oleh UMKM. Kredit Usaha Rakyat (KUR) bisa dijadikan solusi oleh masyarakat yang hendak menggeluti agrowisata ini. Masyarakat lokal dinilai harus berani untuk mengambil langkah terjun sebagai seorang entrepreneur. \u201cTerlebih dengan adanya agrowisata di salah satu desa misalnya, maka akan dapat membangkitkan perekonomian di desa tersebut. Keunikan-keunikan budaya yang dimiliki setiap desa juga bisa dikolaborasikan dengan konsep agrowisata. Ini tentu menjadi potensi yang harus dikembangkan kedepannya,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Pihaknya juga berharap agar pemerintah mempermudah segala bentuk perizinan bagi masyarakat yang hendak berusaha di sektor agrowisata ini. Hal ini tentu akan mendorong masyarakat lokal untuk mengembangkan desanya agar dijadikan objek wisata. (stm)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BADUNG, STATEMENTPOST.COM &#8211; Seiring dengan kembali menggeliatnya sektor pariwisata di Bali pasca pandemi covid 19, ada beberapa potensi pariwisata yang<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1800,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[25,22],"tags":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1799"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1799"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1799\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1802,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1799\/revisions\/1802"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1800"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1799"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1799"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statementpost.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1799"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}