BadungBudayaNews

Lomba Ogoh-ogoh Tahun 2026, ST. Jaya Dharma Br. Legian Kelod Menampilkan Karya Berjudul “Satyaning Caraka”

BADUNG, STATEMENTPOST.COM – Rangkaian lomba ogoh-ogoh se-Kabupaten Badung resmi dimulai. Kompetisi yang dikemas dengan tajuk Badung Caka Fest, diawali dengan penjurian secara serentak di tujuh zona penilaian selama empat hari, mulai Rabu (18/2) hingga Sabtu (21/2).

Seperti yang terlihat pada Sabtu (21/2/2026), para juri melakukan penilaian di zona enam tepatnya di Banjar Legian Kelod, Kecamatan Kuta, Badung. Rombongan juri tiba di lokasi sekitar pukul 11.00 Wita.

Karya menakjubkan ditampilkan oleh Sekaa Teruna Jaya Dharma pada lomba ogoh-ogoh tahun 2026. Tahun ini, ST. Jaya Dharma membuat karya ogoh-ogoh dengan judul “Satyaning Caraka”. Kesetiaan merupakan nilai luhur yang berakar pada konsep dharma (kebenaran dan kewajiban suci) yang menuntun manusia untuk setia pada Tuhan, keluarga, pasangan, serta tanggung jawab sosialnya. Kesetiaan ini tercermin dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang berlandaskan pada Panca Satya.

Konseptor Ogoh-ogoh ST. Jaya Dharma Br. Legian Kelod, I Kadek Oka Rahmanda Adi Saputra menjelaskan, bahwa konsep ogoh-ogoh ini diangkat dari Lontar Tantu Pangelaran. Dalam lontar diceritakan usaha Uma Dewi mencari keberadaan Siwa yang sedang beryoga, memicu terjadinya konflik akibat dari konsekuensi Siwa yang menciptakan dua raksasa penjaga agar tapa yoganya tidak terganggu. Siwa berpesan agar tidak seorang pun boleh menemuinya selain I Gana (anak dari Siwa). Mendengar kalimat tersebut, kedua raksasa penjaga akhirnya memegang teguh perintah yang diberikan tanpa pengecualian. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik akibat dari amarah Dewi Uma yang memuncak karena dihadang untuk menemui sang suami.

“Ogoh-ogoh ini menggambarkan Dewa Siwa bertangan empat. Selain itu, pada karya ini Dewa Siwa dililit oleh Naga Basuki sebagai simbol ketenangan dan Naga Ananta Boga sebagai simbol kesejahteraan. Ketika kedua naga tersebut sudah terbelit di Dewa Siwa artinya tapa yoganya berhasil,” jelas Oka Rahmanda.

Hal yang mendasari pemilihan judul Satyaning Caraka, lanjut Oka, jika dikaitkan dengan fenomena kehidupan sekarang, bahwa kepedulian beberapa yowana di Bali terhadap sekaa terunya semakin berkurang. Untuk itu, ia mengajak kepada seluruh sekaa terunanya yang ada di Bali untuk tetap menjaga kesetiaanya dalam menjalankan gotong-royong di masing-masing banjar.

“Kami juga berharap, pada ajang lomba ogoh-ogoh merupakan sebuah tradisi yang dimiliki pulau Bali, agar seluruh sekaa teruna yang ada di Bali untuk mengajegkan seni dan budaya Bali. Proses pembuatan ogoh-ogoh ini dimulai sejak bulan November 2025 hingga Februari 2026,” imbuhnya.

Sementara itu, Tokoh Masyarakat Legian yang juga Anggota DPRD Badung, I Wayan Puspa Negara, sangat mengapresiasi karya yang dihasilkan oleh ST. Jaya Dharma pada Tahun Baru Saka 1948. Ia juga mendorong kreativitas yowana di Banjar Legian Kelod untuk terus semangat dalam berkarya.

“Kepada seluruh warga ST. Jaya Dharma, saya berpesan agar tetap perkuat persatuan dan kesatuan, ciptakan kreativitas dan inovasi dalam upaya untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah,” tegas Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *