BudayaGaleriGianyarSosbud

Aboetd Art “Seniman Gila yang Sadar Dirinya Gila”, Kini Bangkit dengan Menggelar Pameran Lukisan

GIANYAR, STATEMENTPOST.COM – Dalam sejarah seni, tidak sedikit seniman yang lahir dari kegelisahan, dari rasa tak cocok terhadap dunia yang terlalu rapi dan masuk akal. Mereka sering dicap aneh, nyeleneh, bahkan gila. Namun justru di sanalah kewarasan menemukan bentuknya yang paling murni. Aboet adalah salah satunya. Ia bukan seniman yang lahir dari akademi atau kurikulum seni baku. Kesenimanannya lahir dari luka kecil masa kanak-kanak, obsesi yang tertunda, dan keberanian untuk berdamai dengan kegilaan dirinya sendiri.

Aboet lahir di Banjar Batanancak, Desa Mas, Gianyar pada tanggal 18 September 1979. Ia bernama asli I Kadek Rudiantara. Dunia seni lebih mengenalnya sebagai Aboet Art. Sebelumnya, Aboetd Art sempat viral dengan karya motornya yang bernama “Si Aboetor” dan pengendaranya bernama “Si Loeloek Raider”. Selain itu, ia pernah mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pelukis pertama dengan tanda tangan (seseorang) sebagai media lukisan. Penghargaan ini diserahkan saat pameran Aboetd Art, di sebuah jalan sempit di Banjar Betanancak Mas Ubud, Gianyar.

Eksistensi Aboetd Art tidak berhenti sampai disitu. Setelah sempat vakum, Aboetd kembali menunjukkan kegilaannya sebagai seorang seniman. Aboetd kembali berkreasi dengan memodifikasi motor matic yang dimilikinya menjadi sebuah karya yang sarat akan nilai-nilai pesan moral. Diberi nama “Si Aboetdtor”, karya ini menghadirkan filosofi “Tiga Dunia” atau “Tri Loka” yang menjadi landasan kosmologi Bali, yakni Bhur Loka (dunia bawah), Bwah Loka (dunia tengah), dan Swah Loka (dunia atas).

Tak berhenti sampai disana, dunia seni di Bali dibuat heboh dengan aksi Aboetd Art yang menggelar pameran dadakan di kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Jalan Kutai Utara I, Sumber, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah. Kala itu, Aboetd dengan mengenakan pakaian adat khas Bali serta berbekal kertas dan warna langsung melukis masyarakat sekitar yang juga ingin bertemu dengan Presiden ke-7 RI. Dengan gaya ekspresionis pada lukisannya, sekitar 10 lukisan dibagikan Aboetd kepada pengunjung saat itu. Kehadiran Aboetd Art saat itu, membuat Jokowi senang. Aboetd menuturkan bahwa Jokowi sangat mendukung para seniman untuk mencari identitas dirinya sendiri. Menurut Jokowi, seorang seniman harus mempunyai identitas yang bisa dikembangkan. Sehingga, memicu masyarakat untuk dapat maju dan mandiri.

Kini, Aboetd Art bersama rekan-rekannya di Happy Drawing Community menggelar Pameran lukisan bertajuk “Kebangkitan Seni Warna Indonesia”, pada tanggal 14 Februari 2026, di Toko Seni Warna, Desa Lodtunduh, Ubud, Gianyar. Pameran ini dibuka langsung oleh Ketua TP PKK Provinsi Bali yang juga istri Gubernur Bali, Putri Suastini Koster. Pameran ini lahir dari sebuah kesadaran kolektif akan pentingnya seni sebagai medium pemulihan baik secara kultural, sosial, maupun spiritual, pasca keterpurukan panjang akibat pandemi Covid-19.

Pameran ini tentunya dipelopori oleh Aboetd Art, seorang seniman yang merepresentasikan perjalanan sunyi sekaligus heroik seorang perupa di Bali. Dalam pameran Aboetd menuturkan, selama kurang lebih empat tahun, ia mengalami fase “tenggelam” dalam dunia seni rupa, nyaris tidak aktif melukis, terhenti oleh keadaan, dan dipaksa berdialog dengan dirinya sendiri. Namun, justru dari keheningan itulah lahir kesadaran baru, hingga akhirnya ia bangkit dengan semangat berkarya yang semakin menggebu, jujur, dan penuh energi kebaruan. Dia menjuluki dirinya sebagai “Seniman Gila yang sadar dirinya gila”.

Kebangkitan tersebut tidak berdiri sendiri. Melalui pameran ini, Aboetd Art kembali merangkul para seniman Bali, khususnya di Gianyar serta seniman luar Bali, menghidupkan Kembali simpul-simpul komunitas seni yang sempat terhenti. Pameran ini menjadi ruang temu, ruang solidaritas, sekaligus ruang penyembuhan kolektif, baik bagi seniman perorangan maupun komunitas seperti Happy Drawing Community, yang perlahan kembali menemukan denyut kreatifnya.

Sementara itu, Putri Koster mengapresiasi pameran lukisan yang dipelopori oleh Aboetd Art. Ia mengajak para seniman lukis untuk tetap mempertahankan kualitas di tengah kelesuan pasar yang terjadi saat ini. Dalam kesempatan ini, ia juga tak lupa berpesan kepada seniman lukis yang ada di Bali untuk melestarikan ciri khas lukisan Bali.

Pada pameran ini, lukisan karya Aboetd Art merepresentasikan ledakan energi batin yang lahir dari proses keterpurukan dan kebangkitan, melalui bahasa abstrak ekspresionisme kontemporer. Lapisan warna yang saling bertabrakan, goresan gestural, serta teknik tetesan cat menghadirkan Kesan liar namun jujur, seolah merekam jejak emosi, luka, dan pelepasan yang dialami seniman. Karya ini menjadi ruang pengakuan sekaligus perayaan, menandai kembalinya Aboetd Art dengan semangat kreatif yang lebih berani, reflektif, dan penuh daya hidup.

Sebagai seorang seniman gila di Indonesia, Aboetd juga cakap dalam menghandle kegiatan, atau sering disebut event organizer. Terbukti dari berbagai kegiatan yang telah dibuatnya berjalan lancar dan sukses. Tak hanya itu, pada pameran lukisan ini, Aboetd Art juga menuangkan jiwa sosialnya kepada masyarakat. Kegiatan ini juga diisi dengan berbagi kasih kepada anak-anak panti asuhan dan penyandang disabilitas. Ke depan, Aboetd Art juga berencana akan menggelar pameran secara virtual, yang bertempat di Toko Seni Warna. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *