Nilai Tukar Rupiah Melemah, Puspa Negara Sebut Dampak Positif dan Negatif

BADUNG, STATEMENTPOST.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sangat menentukan dalam proses transaksi di sektor pariwisata. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi saat ini, dinilai berdampak terhadap dua sisi baik positif maupun negatif. Hal tersebut disampaikan Ketua Fraksi Gerinda DPRD Badung, I Wayan Puspa Negara, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, kenaikan dolar AS ini akan menguntungkan para eksportir. Karena, mereka mengekspor produknya ketika nilai tukar rupiah melemah. Sementara itu, dari perspektif kepariwisataan, melemahya nilai tukar rupiah ini juga akan menguntungkan para pelaku usaha di Bali, mengingat banyak pelaku usaha yang menggunakan valuta asing.
“Terutama bagi pengusaha money changer misalnya. Mereka akan diuntungkan denga kenaikan dolar yang signifikan. Demikian juga pelaku usaha di sektor pariwisata. Karena, mereka menggunakan standar dolar dalam penghitungan, tentu membuat keuntungan mereka menjadi naik,” ujar Politisi asal Desa Adat Legian ini.
Di sisi lain, lanjut Puspa Negara, yang berkaitan dengan pembelian barang yang berasal dari impor akan memengaruhi biaya operasional di sektor pariwisata. Dikatakan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini tentu akan meningkatkan opportunity cost dari pelaku usaha. Hal ini tentu akan berdampak kurang baik dari sisi biaya operasional, dan mengharuskan para pelaku usaha untuk melakukan langkah-langkah mitigasi.
Sementara itu, dari perspektif wisatawan tentu akan merasa diuntungkan dengan naiknya dolar AS ini. Dengan ini, wisatawan akan mendapatkan value yang lebih besar ketika berkunjung ke Bali.
“Kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah ini mestinya dijaga stabil. Kita berharap pemerintah mampu mengambil langkah-langkah mitigasi yang baik. Kita percayakan semuanya kepada pemerintah. Dan berharap tidak terjadi krisis moneter sebagai akibat dari naiknya nilai tukar dolar terhadap rupiah,” tegasnya.
Puspa Negara menambahkan, fenomena ini lumrah terjadi di awal tahun. Namun, melemahnya nilai tukar rupiah ini harus tetap dibarengi dengan langkah mitigasi dari pemerintah, agar jarak kenaikannya tidak terlalu fantastis.
Hingga saat ini, kenaikan dolar ini belum berpengaruh signifikan terhadap kunjungan wisatawan ke Bali. Karena, hal ini baru terjadi di awal tahun, mengingat pada bulan Januari-Maret Bali memasuki musim low season.
“Pemerintah Pusat telah menargetkan kunjungan wisman pada tahun 2026 yaitu 17,6 juta. Artinya, bahwa kenaikan nilai tukar dolar ini bisa jadi memberikan dampak terhadap kunjungan wisman. Tetapi sampai detik ini belum terjadi peningkatan, mengingat pada bulan Januari-Maret Bali masih low season,” pungkasnya. (stm)
