Muncul Perdebatan, Nyoman Nikanaya Sebut Penggunaan Kalender Bali Baik untuk Melestarikan Sastra, Namun Timbulkan Kerancuan

BADUNG, STATEMENTPOST.COM – Beberapa waktu lalu, Gubernur Bali Wayan Koster mengusulkan Bali agar memiliki kalender sendiri, yaitu kalender Bali dengan siklus 35 hari dalam setiap bulannya. Dengan adanya kalender Bali, dinilai dapat menjunjung kearifan lokal Bali dan penanggalannya akan sesuai dengan perhitungan hari baik, hari raya maupun upacara keagamaan di Bali. Namun, usulan ini justru menimbulkan perdebatan sejumlah kalangan di Bali.
Menurut Seniman yang juga Pemilik Sanggar Seni Semarandana, I Nyoman Nikanaya, Selasa (13/1/2026), di Desa Munggu, Badung, sejatinya usulan ini sangat baik terutama dalam melestarikan sastra yang ada sejak dahulu. Namun, apabila kalender Bali ini kembali dibangkitkan, ia menilai akan menimbulkan kerancuan antara kalender nasional dengan kalender Bali.
“Kami sih setuju saja. Tapi, persoalannya adalah sejauh mana manfaat kalender Bali digunakan saat ini. Karena, sebelum usulan ini muncul semua segala sesuatu yang berkaitan dengan kalender Bali sudah berjalan sangat baik di tengah-tengah masyarakat. Banyak hal-hal yang terkait dengan adat, budaya yang tidak tertulis termasuk juga kalender,” kata Mantan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Nyoman Nikanaya juga mempertanyakan, apabila kalender Bali ini digunakan apakah tidak membingungkan masyarakat Bali nantinya? Apakah khusus digunakan untuk hari baik atau bagaimana? Hal ini tentu harus dibicarakan bersama secara menyeluruh.
Sementara itu, untuk menjaga keberlangsungan pariwisata Bali dan menjaga kelestarian budaya Bali, ia memberi masukan kepada pemerintah agar lebih fokus pada permasalahan sampah yang hingga kini belum terselesaikan. Begitu juga masalah kemacetan yang mengakibatkan ketidaknyamanan wisatawan ketika berkunjung ke Bali.
Ia juga menyoroti struktur bangunan daripada akomodasi pariwisata yang tidak ada gaya arsitektur Bali. “Beberapa waktu lalu kami dihubungi oleh salah satu teman dari Amerika. Dia ingin menginap di villa yang ada gaya arsitektur Balinya. Sementara saat ini, vila yang ada di Bali kebanyakan bentuknya sudah kotak-kotak dan tidak ada seninya. Mari kita perhatikan bersama, ini masukan kepada pemerintah untuk melestarikan budaya dan juga seni bangunan di Bali,” ungkapnya. (stm)
