Dukung Kesetaraan Gender dan Inklusi, Universitas Ngurah Rai Menyelenggarakan Konferensi Internasional Pertama

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) Universitas Ngurah Rai (UNR) menyelenggarakan Konferensi Internasional pertama yang bertajuk “Public Policy, Gender Equality, Disability, and Social Inclusion: Towards the Achievement of the 2030 SDGs”, pada 16-17 Desember 2025. Konferensi Internasional ini juga bekerjasama dengan Yayasan Bali Sruti, Institut KAPAL Perempuan dan Bali Gender Studies Forum.
Konferensi ini memberi perhatian pada ketimpangan struktural yang terus membatasi akses, partisipasi, dan kontrol perempuan dan kelompok disabilitas atas layanan dasar, perlindungan hukum, pendidikan, pekerjaan layak, migrasi aman, hingga representasi politik. Data Indeks Gender SDGs Equal Measures 2030 (EM2030) menunjukkan bahwa hampir 40% negara dengan populasi lebih dari 1 miliar perempuan dan anak perempuan mengalami stagnasi atau kemunduran dalam capaian kesetaraan gender antara 2019–2022. Proyeksi global EM2030 memperkirakan bahwa tanpa percepatan signifikan, dunia baru akan mencapai kesetaraan gender dalam 97 tahun.
Melalui konferensi ini, diharapkan dapat menghimpun seluruh pemikiran dan pengetahuan, yang selama ini berasal dari perjuangan yang dilakukan untuk keadilan dan kesetaraan gender. “Ini tantangan di Indonesia sampai sekarang masih kuat. Karena, budaya patriarkinya masih kuat, Indonesia beragam tapi potensi terpecah-pecah masih tinggi. Kemudian, kebijakan yang sudah ada untuk keadilan, kesetaraan dan keberagaman belum dijalankan dengan baik,” ungkap Budhis Utami, Direktur Institut KAPAL Perempuan.
Konferensi ini, lanjut dia, akan membahas sejauh mana kebijakan tersebut mampu mempengaruhi perubahan, keadilan dan kesetaraan untuk semua kalangan terutama kaum perempuan dan kelompok miskin yang dimarjinalkan. “Melaui konferensi ini, kami harapkan akan ada semacam rekomendasi dalam hal kebijakan apa yang harus direview. Selain itu, edukasi kepada masyarakat seperti apa dalam konteks sosial budaya kita yang masih patriarki. Kemudian, bagaimana memperkuat kepemimpinan perempuan dan kelompok marjinal. Lalu, bagaimana advokasi kita di tingkal global untuk bisa membangun kesetaraan gender dan inklusif di negara kita. Demokrasi dan kemajuan suatu negara tidak akan terjadi jika tidak ada kesetaraan gender serta tidak ada penghargaan terhadap keberagaman identitas di Indonesia,” pungkasnya.

Dalam konferensi internasional ini, akan mempresentasikan sebanyak tujuh puluh artikel, yang dibagi menjadi enam sub-tema yaitu Kebijakan Publik untuk Keadilan Gender dan Inklusi, Transformasi Sosial-Budaya untuk Keadilan Gender, Kerja Sama Global dalam Mewujudkan SDGs 2030, Kepemimpinan Perempuan, Feminisasi Data dalam Pembangunan dan Reformasi Hukum serta Penegakan Hukum untuk Kesetaraan Gender. Konferensi ini turut dihadiri oleh sejumlah negara, seperti Malaysia, India, Australia dan Rusia.
Sementara itu, Rektor Universitas Ngurah Rai, Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, M.M., M.Hum., menyatakan, bahwa Prodi Administrasi Publik FISHUM sudah mengadopsi kurikulum gender. Menurutnya, kesetaraan gender tidak hanya berkaitan dengan kaum perempuan, melainkan juga kaum laki-laki. “Bagaimana kesetaraan gender itu bisa diupayakan setara mungkin. Kami juga berharap, konferensi internasional ini tidak berhenti sampai disini saja, tapi bisa berlanjut kedepannya,” ungkapnya. (stm)
