Prof. Gede Sedana: Lestarikan Subak Sebagai Daya Tarik Pariwisata Budaya

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Seperti diketahui Bersama, Bali dikenal dengan pariwisata berbasis budaya sejak dahulu. Salah satu penopang pariwisata budaya adalah “Subak”, maka keberadaan subak harus dijaga dan dilestarikan.
Bali memiliki daya tarik wisata berbasis budaya yaitu budaya pertanian. Untuk itu, subak yang ada di bali harus dijaga dan dilestarikan. “Sektor pariwisata memerlukan penunjang infrastruktur seperti jalan, bangunan, dan pemukiman. Hal ini merupakan sebuah tantangan bagi Bali kedepannya,” ungkap Rektor Dwijendra University, Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.M.A., Rabu (12/11).
Menurut Prof. Gede sedana, di Denpasar saat ini sudah terjadi alih fungsi lahan yang massif, sehingga keberadaan subak semakin berkurang. Sekarang dengan adanya peraturan perundang-undangan terkait perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan kemudian juga ada peraturan presiden tentang pengendalian alih fungsi lahan sawah. Selain itu juga, ada surat edaran dari menteri pertanian untuk melarang alih fungsi lahan pertanian.
“Tentu hal ini akan memperkuat pelestarian keberadaan subak. Sebenarnya, di rencana tata ruang sudah ditetapkan di wilayah mana saja boleh orang membangun, tetapi sekarang ada hal-hal yang bersinggungan seperti proses perijinan OSS yang mestinya disinkronkan dengan kondisi Bali,” imbuhnya.
Prof. Sedana menekankan, sekarang harus dijaga keberadaan lahan sawah Bali dimulai dari kesadaran masyarakat Bali untuk menjaga alam dan budaya Bali. Jika masyarakat sudah mempunyai kesadaran untuk melestarikan subak, maka akan mampu menekan alih fungsi lahan. Keberadaan subak sangat multifungsi, seperti pariwisata, ekologi, sosial ekonomi dan juga fungsi politik.
Prof. Sedana juga menyambut baik program pemerintah Bali terkait kedaulatan pangan. Para petani sebagai produsen dan aktor mudah-mudahan nanti menerima manfaat. Diharapkan, kebijakan pemerintah ini mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.
Masyarakat diharapkan tidak berpikir instan dalam meraih penghasilan. Oleh karena itu, pemerintah hadir agar diberikan insentif kepada petani untuk mengelola hasil pertanian. Seperti subsidi pupuk, bimbingan teknologi dan membantu pemasaran. Terlebih, pemerintah provinsi Bali sudah merancang adanya BUMD pangan.
“Ketika petani sejahtera akan memberikan motivasi kepada petani untuk bekerja di lahan sawah dan tidak akan menjual sawahnya,” tegasnya. (stm)
