BadungPendidikanSosbudSosial

Kolaborasi Kemendukbangga/BKKBN Bali dan Universitas Udayana, Berikan Sentuhan Budaya dan Kasih dalam Pencegahan Stunting di Kapal, Badung

BADUNG, STATEMENTPOST.COM – Guyuran hujan tak menyurutkan semangat para relawan dan akademisi untuk menyambangi keluarga berisiko stunting. Tim Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN Provinsi Bali bersama Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (Unud) mengunjungi keluarga berisiko stunting di Kelurahan Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Kegiatan yang bertemakan “Pemberdayaan Keluarga Berisiko Stunting Berbasis Budaya” ini, menjadi bagian dari Program Peningkatan Pelaksanaan Kemendukbangga/BKKBN Tahun 2025 yang menekankan pendekatan kolaboratif dan kultural dalam pencegahan stunting.

Kegiatan dimulai di Aula Kantor Lurah Kapal dengan suasana penuh keakraban. Setelah sambutan dan laporan dari Koordinator Program Studi S3 Kajian Budaya Unud, Prof. Dr. I Nyoman Dharma Putra, M.Lit., acara berlanjut dengan sesi panel. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si. dari Unud berbicara tentang makna pengabdian masyarakat dalam perspektif budaya, sementara Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Dr. dr. Luh Gede Sukardiasih, M.For., M.A.R.S., memaparkan tentang strategi Quick Win BKKBN melalui dua program unggulan, yakni Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).

Dalam kesempatan ini, Sukardiasih menekankan, stunting bukan hanya soal gizi dan kesehatan, tetapi juga soal nilai, pola asuh, dan komunikasi keluarga. “Edukasi berbasis budaya akan lebih mengena, karena masyarakat merasa dilibatkan dalam bahasa dan cara mereka sendiri,” ujarnya.

Diskusi kali ini berlangsung dinamis. Para tokoh adat, penyuluh KB, mahasiswa, dan remaja turut bertukar pandangan. Banyak yang berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dengan melibatkan banjar-banjar adat. Dari sesi ini muncul kesadaran kolektif bahwa pencegahan stunting adalah tanggung jawab Bersama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.

Usai sesi indoor, tim melanjutkan kunjungan lapangan ke tiga Keluarga Berisiko Stunting (KRS). Salah satunya pasangan Komang Kerta Yasa dan Putu Rika, pasutri berkebutuhan khusus yang tinggal di Lingkungan Tegal Saat. Rumah mereka sederhana, berdinding kayu dengan dapur tua di sisi depan. Di rumah inilah mereka mengasuh bayi perempuan yang baru lahir 26 September 2025.

Kepala Perwakilan BKKBN Bali memberi edukasi langsung tentang pentingnya ASI eksklusif dan nutrisi seimbang. Rika, yang mengalami tunagrahita, mengaku terkadang kesulitan memberi ASI karena produksinya tidak lancar. Sukardiasih lalu memberi tips agar ASI keluar optimal dan menegaskan bahwa ASI adalah benteng pertama mencegah stunting.

Selain edukasi, keluarga ini juga menerima bantuan paket nutrisi enam bulan dari akademisi dan mahasiswa Unud yang menjadi Orang Tua Asuh. “Perguruan tinggi tidak hanya berbicara teori, tapi juga turun memberi solusi,” ujar Prof. Dharma Putra saat menyerahkan bantuan secara simbolis.

Kegiatan yang turut dihadiri Lurah Kapal, tokoh masyarakat, dan Sekaha Teruna-Teruni ini menjadi bukti nyata bahwa pencegahan stunting tidak bisa dilakukan secara sektoral. Dengan pendekatan budaya dan sentuhan kemanusiaan, gerakan ini menegaskan bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil yaitu dari satu keluarga, satu desa, untuk lahirnya generasi Bali yang sehat, cerdas, dan berdaya. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *