Dosen INSTIKI Gelar Pelatihan Microsoft Excel, Kompetensi Siswa SMK Saraswati 1 Denpasar Meningkat Signifikan

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Tim dosen Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) menyelenggarakan pelatihan Microsoft Excel bagi siswa kelas X SMK Saraswati 1 Denpasar. Kegiatan yang merupakan bagian dari Program INSTIKI Community Service (ICS) ini, berlangsung pada 21 Oktober 2025 dan diikuti oleh 45 siswa.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh I Putu Arya Mulyawan bersama empat anggota tim lainnya, yaitu Yuri Prima Fittryani, I Wayan Dharma Suryawan, Kompiang Martina Dinata Putri, dan Ni Kadek Nita Noviani Pande. Program ini digagas untuk menjawab persoalan rendahnya kemampuan siswa dalam mengoperasikan aplikasi pengolah angka tersebut.
Kesenjangan Kompetensi Digital di Bangku SMK
Program ini bermula dari hasil observasi dan wawancara tim pelaksana dengan Kepala SMK Saraswati 1 Denpasar, Gek Ayu Hendrewati. Dari penelusuran tersebut, ditemukan bahwa sebagian besar siswa kelas X masih kesulitan menjalankan operasi dasar Microsoft Excel, mulai dari penggunaan rumus sederhana seperti SUM, AVERAGE, dan COUNT, hingga pembuatan grafik dan pengaturan format data.
Rendahnya kompetensi tersebut, disinyalir dipengaruhi oleh keterbatasan waktu pembelajaran reguler di kelas serta minimnya kesempatan siswa untuk berlatih secara mandiri menggunakan komputer. Padahal, penguasaan Excel kini menjadi salah satu keterampilan dasar yang wajib dimiliki lulusan SMK, terutama untuk jurusan administrasi, bisnis, dan teknologi informasi, mengingat aplikasi ini banyak dipakai dalam aktivitas administrasi perkantoran, pencatatan keuangan, hingga analisis data sederhana di dunia kerja.
Kondisi ini turut mendapat perhatian dari berbagai kajian sebelumnya. Kompetensi Excel siswa SMK di jenjang kelas awal cenderung tergolong rendah akibat minimnya pembelajaran praktik yang bersifat intensif dan interaktif. Sementara itu, laporan keterampilan tenaga kerja global juga menempatkan literasi data dan penguasaan spreadsheet sebagai salah satu dari sepuluh keterampilan teknis yang paling dicari perusahaan dalam beberapa tahun terakhir, sehingga penguatan kompetensi ini dinilai mendesak untuk dilakukan sejak bangku sekolah menengah kejuruan.
Metode Pelatihan Berbasis Praktik
Menjawab persoalan tersebut, tim dosen INSTIKI merancang pelatihan dengan pendekatan practice based learning, yakni model pembelajaran yang menekankan praktik langsung dibandingkan ceramah semata. Kegiatan diawali dengan pretest untuk mengukur kemampuan awal siswa, dilanjutkan dengan penyampaian materi secara bertahap mulai dari pengenalan antarmuka Excel, pengelolaan lembar kerja, hingga penerapan rumus dan fungsi dasar.
Setelah pemaparan materi, siswa langsung diarahkan mempraktikkan input data, penyusunan tabel, serta penggunaan rumus SUM, AVERAGE, MAX, dan MIN pada latihan yang disesuaikan dengan simulasi pekerjaan administrasi. Sepanjang sesi praktik, tim pelaksana memberikan pendampingan secara individual maupun kelompok agar setiap siswa mendapat kesempatan bertanya sesuai kemampuannya masing masing. Rangkaian kegiatan ditutup dengan posttest sebagai instrumen evaluasi akhir.

Skor Meningkat 46 Persen
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Rata rata skor pretest siswa yang semula berada di angka 65 naik menjadi 95 pada posttest, atau setara dengan peningkatan sekitar 46 persen. Capaian ini mengindikasikan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik cukup efektif mempercepat pemahaman siswa terhadap materi Excel dibandingkan metode pembelajaran konvensional yang selama ini diterapkan di kelas reguler.
Selain data kuantitatif tersebut, evaluasi kegiatan juga diperkuat dengan tanggapan pihak sekolah. Guru pendamping menyampaikan bahwa pelatihan ini dirasakan bermanfaat bagi siswa, khususnya karena mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aplikatif dibandingkan pembelajaran Excel di kelas reguler yang alokasi waktunya terbatas.
Kendala Teknis dan Strategi Penanganan
Dalam pelaksanaannya, tim pengabdi tidak lepas dari sejumlah kendala teknis, di antaranya keterbatasan jumlah unit komputer yang tersedia di sekolah serta gangguan jaringan internet pada saat sesi praktik berlangsung. Kondisi ini sempat membuat sebagian siswa harus bergantian menggunakan perangkat, sehingga waktu praktik individu menjadi lebih terbatas.
Untuk mengatasi hal tersebut, tim pelaksana membagi peserta ke dalam kelompok kelompok kecil dan memperpanjang durasi sesi pendampingan, sehingga seluruh siswa tetap memperoleh kesempatan belajar yang memadai hingga akhir kegiatan.
Rekomendasi Keberlanjutan Program
Tim pelaksana berharap kegiatan ini dapat menjadi model pendampingan berkelanjutan dalam penguatan kompetensi digital siswa SMK, tidak hanya di SMK Saraswati 1 Denpasar, tetapi juga direplikasi di sekolah lain dengan karakteristik permasalahan yang serupa. Sebagai bentuk keberlanjutan, tim pengabdi turut menyusun modul pelatihan Microsoft Excel sederhana yang dapat dimanfaatkan guru sebagai bahan ajar pendukung pembelajaran reguler maupun kegiatan ekstrakurikuler.
Tim juga merekomendasikan penguatan sarana dan prasarana teknologi informasi di sekolah, khususnya penambahan unit komputer dan peningkatan kualitas jaringan internet, agar peningkatan kompetensi yang telah dicapai siswa dapat dipertahankan dan terus dikembangkan melalui program pendampingan lanjutan.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dijalankan secara rutin oleh dosen di lingkungan INSTIKI, dengan pembiayaan penuh dari institusi guna mendukung penguatan pendidikan vokasi di Bali. (stm)
