BaliDenpasarEkonomiNewsPariwisata

Tak Sebanding, Pengembangan Sektor Pariwisata dan Pertanian Harus Terintegrasi dengan Baik

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Sektor pertanian di Bali tidak boleh berjalan sendiri, melainkan harus terintegrasi dengan pengembangan pariwisata berbasis budaya. Integrasi kedua sektor ini sangat penting agar petani tidak hanya menjadi penjaga lanskap alam Bali, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih adil dari aktivitas pariwisata.

Menurut Praktisi Pariwisata, Bagus Sudibya, Senin (6/7/2026), sejak dulu pariwisata Bali memang sudah berbasis budaya yang berlandaskan pada pertanian. Namun, seiring pesatnya perkembangan pariwisata, pertanian di Bali mengalami perubahan yang sangat signifikan. Hal ini, terlihat dari luasan lahan pertanian yang semakin sempit, dan juga pemanfaatan teknologi di sektor pertanian.

Bagus Sudibya menegaskan, perlu dicarikan terobosan untuk membangkitkan kembali sektor pertanian di Bali. Terobosan yang dimaksud bisa melalui penerapan dua strategi konkret, yaitu intensifikasi dan ekstensifikasi. Metode ekstensifikasi dinilai nyaris tidak mungkin bisa dilakukan lagi, karena ketersediaan lahan di Bali sudah sangat terbatas. Sementara intensifikasi, adalah melipatgandakan hasil panen perhektare dengan menggunakan teknologi dan inovasi. Metode ini tentu memerlukan keterampilan dan pengetahuan yang memadai.

“Kalau saya lihat selama ini pertanian kita masih sangat mundur jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Selain itu, ketersediaan produk-produk pertanian, seperti bibit dan alat-alat pertanian modern masih sulit ditemukan. Sehingga, produk pertanian kita kalah bersaing dengan produk pertanian dari luar,” ujar Bagus Sudibya.

Perkembangan pariwisata yang begitu pesat, dinilai tidak sebanding dengan pengembangan sektor pertanian di Bali. Padahal, jika sektor pertanian terintegrasi baik dengan pariwisata, tentu akan memberi dampak ekonomi yang sangat baik bagi para petani Bali.

Di sisi lain, pariwisata Bali perlu mengembangkan potensi kuliner lokalnya untuk memberi efek domino bagi sektor pertanian. Pengembangan kuliner sebagai salah satu pusat pengolahan produk pertanian, sangat menentukan suatu destinasi pariwisata.

“Produk kuliner kita kalau disejajarkan dengan negara Thailand masih ketinggalan dalam hal kreativitas. Ini lah yang mestinya dipikirkan dengan matang ke depannya. Jika kita ingin mengembangkan pariwisata budaya, maka kuliner merupakan salah satu budaya kita juga,” imbuhnya.

Pertanian di Bali, kata Bagus Sudibya, selama ini masih berfokus pada hasil produk yang dibutuhkan oleh masyarakat lokal. Padahal, jika ingin menambah edit value terhadap produk pertanian, tentunya harus bisa memproduksi hasil pertanian yang dibutuhkan oleh akomodasi pariwisata. Hal ini sekaligus untuk mengurangi impor bahan baku dari luar Bali.

“Jika kita sudah mampu memproduksi sendiri, akan jauh membuat kemandirian ekonomi. Dan ini, menurut saya harus dimulai dari pendidikan. Pendidikan pertanian yang ada di perguruan tinggi harus mulai menghasilkan lulusan yang mau bertani secara modern, dan memproduksi hasil pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Sehingga, mindset menjadi seorang petani itu tidak kalah dengan wirausahawan,” pungkasnya. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *