BadungBaliBudayaNewsPendidikan

Pagelaran Tari Kul-Kul di Panggung Sangkep – Green School Bali Berhasil Memukau Ratusan Penonton

BADUNG, STATEMENTPOST.COM – President Yayasan Kul-Kul – Green School Bali, Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, MM., M.Hum., menjadi salah satu penerima manfaat dari Kementerian Kebudayaan RI, melalui pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Indonesiana tahun 2025. Pagelaran Tari Kul-Kul yang dilaksanakan pada Sabtu (20/06/2026), di Panggung Sangkep – Green School Bali, merupakan sebuah perwujudan nyata dari pelestarian budaya yang inklusif.

Dalam kesempatan ini, tari Kul-Kul dibawakan oleh 12 orang penari perempuan. Pagelaran tari Kul-Kul ini berhasil memukau ratusan penonton yang hadir.

Tari Kul-Kul mempersembahkan seni gerak dan irama, yang merupakan simbol komunikasi, kebersamaan dan harmoni masyarakat Bali. Tari Kul-Kul diciptakan Prof. Ni Putu Tirka Widanti, yang berawal dari kecintaannya pada seni budaya, sebuah tradisi sosial yang sangat kuat yaitu budaya gotong royong sebagai warisan budaya bukan benda. Terminologi seni teater tari To Kul-Kul untuk mengeksplorasi hubungan seni pertunjukan dengan aktivitas simbolik keagamaan, tradisi, siklus kehidupan manusia (rites of passage), dan konflik sosial di masyarakat.

Kulkul merupakan alat komunikasi tradisional Bali, berupa alat musik bunyi yang umumnya terbuat dari bambu atau kayu, dan menjadi warisan leluhur. Sebagai benda suci dalam filosofi Hindu Bali, kulkul memiliki dewa penjaga (dewan kulkul), yaitu Sang Hyang Iswara, sebagai dewa suara. Ia dipuja sebagai pemberi kekuatan bagi kulkul di prabawa sebagai Sang Kala Genter dan Sang Kala Gentar.

Pagelaran Tari Kul-Kul di Desa Sibang Kaja ini, menjadi pengingat bahwa akar budaya harus tetap kuat di tengah kemajuan zaman. Melibatkan para lansia hingga mahasiswa, menunjukkan bahwa seni adalah jembatan yang melampaui batas usia.

“Setahun yang lalu, Kementerian Kebudayaan RI hadir ke Green School Bali untuk memberikan support kepada kami agar terus maju. Semoga, setiap tahun kita bisa menyelenggarakan kegiatan seperti ini,” ujar Prof. Tirka Widanti dalam sambutannya.

Prof. Tirka Widanti menjelaskan, bahwa keberadaan Kulkul pada zaman dahulu memiliki peran yang sangat vital sebagai sarana komunikasi. Kulkul dimanfaatkan untuk mengundang warga desa adat, atau memberi tanda-tanda tertentu kepada warganya.

“Kulkul menjadi alat komunikasi yang sangat ampuh. Hingga saat ini, Kulkul masih digunakan oleh banjar maupun desa adat di Bali,” tegasnya.

Melalui pagelaran tari Kul-Kul ini, ia berharap kepada generasi penerus agar tidak melupakan warisan budaya yang adiluhung. Kulkul menjadi simbol kebesaran Dewa Iswara, sebagai pemberi kekuatan (taksu) dan kesucian. Meskipun perkembangan alat komunikasi semakin canggih, Kulkul masih memiliki nilai kesakralan dan persatuan bagi masyarakat Bali. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *