Mahasiswa FEB UNUD Menjajaki Kawasan Rendah Emisi Sanur

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Belajar tidak lagi sebatas sekat dinding ruang kuliah. Suasana pagi di Kawasan Pesisir Sanur diramaikan oleh rombongan mahasiswa dari Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Udayana yang berkeliling menyisir Sanur. Kelompok mahasiswa didampingi oleh WRI Indonesia menaiki shuttle listrik dan berjalan kaki di Sanur bukan hanya untuk menikmati pemandangan semata, tetapi menjelajahi praktik dan observasi upaya-upaya implementasi Kawasan Rendah Emisi Sanur yang menjadi percontohan integrasi antara inisiatif keberlanjutan dengan optimalisasi tata ruang kota serta mobilitas berkelanjutan.
Okan, mahasiswa FEB Universitas Udayana, dalam kegiatan Bali Bicara: Kawasan Rendah Emisi, menyampaikan pandangannya akan tantangan dari sektor pariwisata dan inisiatif penurunan emisi di Bali saat ini. “Bali ini memiliki dua tujuan besar, mengingat kedua tujuan ini para realitanya cenderung bertentangan. Satu sisi ingin menarik kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya, namun pada sisi lain Bali ini memiliki visi mencapai Bali Emisi Nol Bersih/Bali Net Zero Emission di tahun 2045. Semakin banyak kunjungan pasti meningkatkan kebutuhan mobilitas,” Ujar Okan.
Kerentanan struktur ekonomi Bali masih bertumpu pada sektor pariwisata konvensional. Inisiatif Kawasan Rendah Emisi / Bali Low Emission Zone Initiatives (BLEZI) menjadi peluang sebagai pendorong transformasi ekonomi Bali agar tidak bergantung pada mass tourism, dan mulai memperhatikan kualitas dari pariwisata serta transformasi ekonomi hijau di Pulau Dewata.
Adanya inisiatif BLEZI ini, Komang Agus, Mahasiswa FEB Universitas Udayana, melihat adanya peluang besar di Sanur. “Zero emisi ini bisa mengubah wajah Bali yang memberi kesan Bali yang nyaman dan green. Dalam kuliah ada studi ekonomi pembangunan berkelanjutan, yang sejalan dengan inisiatif ini. Dengan inisiatif ini tentu akan menarik minat investor untuk datang, dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi,” Ujarnya.
Maria Silaen, Low Carbon Mobility Specialist WRI Indonesia menjelaskan, bahwa pariwisata berkontribusi sangat tinggi terhadap PAD Kota Denpasar hingga 32%. Perkembangan pariwisata menjadi tumpuan utama di Bali sekaligus memiliki sensitivitas yang tinggi, tidak bisa hanya dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi saja, tetapi kualitas lingkungannya juga perlu diperhatikan.
“Semakin banyak mobilitas maka semakin banyak juga emisinya. Sekitar 41% emisi di tahun 2024 berasal dari sektor transportasi. Kita ingin mengurangi emisi tetapi ekonomi tetap tumbuh, jadi menyasar pada aktivitas yang mulai beralih menggunakan transportasi umum, kendaraan listrik, sepeda, dan berjalan kaki yang merupakan bagian dari mobilitas rendah emisi.” Ujarnya Maria.

Putu Krisna Adwitya Sanjaya, Dosen Program Sarjana Ekonomi FEB Universitas Udayana, menjabarkan salah satu bagian dari Sustainable Development Goals (SDGs) adalah rendah emisi yang mesti dituntaskan.
“Bagaimana kita bisa bertindak secara langsung untuk perencanaan masa mendatang, tidak hanya perencanaan jangka pendek seperti yang dipelajari dalam ilmu ekonomi pembangunan berkelanjutan. Saya kira apa yang sudah dilakukan oleh teman-teman WRI Indonesia ini bersama desa adat sudah menjadi langkah serius untuk lingkungan,” ujar Krisna.
Krisna juga menambahkan, bahwa dunia kerja terus mengalami perkembangan, dan keberadaan model green jobs dan digital nomad ini menjadi peluang kerja baru yang dapat menarik generasi muda Bali, menjadi alternatif pilihan karir selain dari bidang pariwisata maupun sektor konvensional, sekaligus mengurangi kebutuhan bermobilitas karena dapat dilakukan secara fleksibel.
Bali menjadi sorotan dunia dalam dunia pariwisata, dan sering menjadi tempat diselenggarakannya kagiatan berskala internasional yang membahas mengenai isu pembangunan berkelanjutan. Keterlibatan masyarakat maupun perguruan tinggi Bali di dalam forum-forum tersebut dirasa menjadi poin penting yang perlu diperhatikan agar nilai-nilai keberlanjutan menjadi kepemilikan bersama.
“Bagaimana kita sebagai civitas akademika dan masyarakat di Bali kedepannya tidak hanya menjadi penonton saja, melainkan ikut serta mengambil peran strategis dalam perencanaan berkelanjutan yang berorientasi lingkungan, sejalan dengan Palemahan dalam Tri Hita Karana. Harapannya dengan kunjungan ini dan dialog dalam Bali Bicara: Kawasan Rendah Emisi, dari skala mahasiswa juga ada yang mulai tertarik untuk mengambil penelitian atau skripsi yang berhubungan dengan keberlanjutan,” imbuh Krisna. (stm)
