Bali Hadapi Ketimpangan Pembangunan Pariwisata, Begini Pandangan Bagus Sudibya

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Dewasa ini, pengembangan pariwisata Bali masih berfokus pada wilayah Selatan. Hal tersebut menyebabkan pemerataan ekonomi belum bisa terwujud. Untuk itu, penting agar segera diterapkannya “One Island Management” di Bali.
Menanggapi hal tersebut, Praktisi Pariwisata, Bagus Sudibya, Rabu (3/6/2026), mengatakan, bahwa konsep one island management sebenarnya sudah mulai digaungkan sejak awal 90-an oleh para stakeholders pariwisata. Saat itu, stakeholders pariwisata sudah menyadari adanya pertumbuhan ekonomi yang masif terjadi di Bali Selatan.
“Pada saat itu, masih terkonsentrasi di daerah Badung. Kemudian, pariwisata Bali mulai berkembang di Kota Madya (Denpasar), dan merambah ke wilayah Ubud, Gianyar,” ujarnya.
Akibat perkembangan pariwisata di Bali Selatan, lanjut dia, sehingga banyak penduduk dari Bali Timur, Utara, dan Barat, yang berdatangan mencari pekerjaan di Bali Selatan. Hal ini, juga berdampak terhadap ketimpangan demografi kependudukan di Bali.
Di sisi lain, ia juga mengusulkan agar Bali memiliki otonomi khusus di bidang pariwisata yang terpusat di Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. Jika otonomi khusus pariwisata ada di Pemprov Bali, maka pendapatan daerah seperti pajak hotel dan restoran (PHR) langsung terpusat di provinsi.
“Katakanlah PHR langsung terpusat di provinsi, maka nanti Pemprov Bali yang membagikan ke masing-masing Kabupaten/Kota secara merata, dan sesuai dengan jumlah penduduk dan luas wilayah. Dengan demikian, tidak akan ada kecemburuan sosial,” terangnya.
Otonomi khusus pariwisata, kata dia, juga akan mewujudkan pemerataan pembangunan di Bali, terutama ke wilayah-wilayah yang selama ini belum tersentuh sarana prasarana pariwisata.
Saat ini, pariwisata Bali membutuhkan aksesibilitas atau kemudahan dalam hal infrastruktur jalan. Sehingga, daerah-daerah terpencil yang selama ini kurang digarap, bisa dikembangkan untuk menjadi daya tarik investor. Hal ini, tentu akan berdampak terhadap pemerataan pembangunan pariwisata Bali yang lebih baik.
“Misalnya, saat ini sedang digarap pasir pantai Candidasa yang berwarna hitam, dan akan diubah menjadi putih, dengan menggunakan teknologi dari NGO Jepang. Jika kerja sama ini bisa dilanjutkan untuk membuat seluruh pasir pantai di Bali berwarna putih, tentu akan menjadi daya tarik yang sangat luar biasa bagi investor dan wisatawan. Apalagi, didukung infrastruktur jalan yang memadai,” tegasnya.
Ke depan, pendistribusian pariwisata diharapkan bisa dilakukan lebih berkeadilan, melalui tindakan-tindakan yang prinsip dan esensial. Sehingga, mampu mengembangkan daerah lain yang selama ini belum terjangkau dengan baik. (stm)
