BaliDenpasarNewsPendidikan

Hendra Utay Luncurkan “Resisto”, Buku Drama Perlawanan, Kemanusiaan, dan Kegelisahan Zaman

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM — Dunia teater dan sastra Indonesia kembali mendapat sumbangan karya sastra melalui terbitnya buku Resisto, kumpulan naskah drama karya Hendra Utay. Buku ini diterbitkan oleh Teater Sastra Welang Bali pada Desember 2025, namun baru resmi diluncurkan pada Kamis, 14 Mei 2026 melalui akun sosial media @hendrautay.

Resisto memuat lima naskah drama dan monolog: “Sang Penari”, “Drama 7 Menit”, “Soma”, “Monolog Pidato 7 Menit”, serta satu naskah kolaborasi bersama Gabrielle Abogado berjudul “Mata Tilaar”. Melalui karya-karya tersebut, Hendra Utay menghadirkan panggung yang dipenuhi suara-suara kegelisahan sosial: pendidikan yang timpang, budaya yang tergerus, birokrasi yang absurd, hingga manusia-manusia kecil yang berusaha bertahan di tengah perubahan zaman.

Buku ini menjadi istimewa karena naskah-naskah di dalamnya merupakan sebagian karya yang berhasil diselamatkan dari perjalanan panjang proses berteater Hendra Utay. Banyak naskah lain miliknya hilang, tercecer, bahkan lenyap bersama dinamika kehidupan panggung yang dijalaninya selama bertahun-tahun. Karena itu, Resisto bukan sekadar kumpulan naskah drama, melainkan juga arsip penting perjalanan artistik seorang pekerja teater yang tumbuh dari panggung ke panggung.

Pada teks sampul buku disebutkan bahwa Hendra Utay memulai perjalanan kesenian teaternya pada awal era 1990-an. Kala itu, atas ajakan seniman teater Bali, Abu Bakar, ia bermain dalam sinetron produksi TVRI—sebuah langkah awal yang memperkenalkannya pada panggung yang lebih luas dan dunia yang tak lagi sama. Sejak saat itu, ia menjelajahi panggung demi panggung, mencicipi asam garam proses pemanggungan dengan penuh dedikasi. “Teater bukan sekadar pilihan hidup, melainkan jalan sunyi yang ditempuh dengan cinta,” demikian narasi yang tertulis pada sampul belakang buku.

Dalam pengantar buku, editor Moch Satrio Welang menyebut karya-karya dalam Resisto sebagai perjalanan batin yang bergerak di antara “perlawanan dan kepasrahan, absurditas dan kejujuran manusia yang berdiri di atas panggung hidupnya masing-masing.”

Naskah “Sang Penari” menampilkan tokoh Ketut yang terjebak di antara kecintaan terhadap budaya dan kehancuran identitas diri. Sementara “Drama 7 Menit” menghadirkan kritik tajam terhadap dunia pendidikan dan ketimpangan sosial melalui dialog satir dan teatrikal. Adapun “Soma” bergerak melalui monolog seorang manusia pinggiran yang berbicara tentang kemacetan, pariwisata, kemiskinan, hingga keterasingan hidup urban di Bali.

Selain menjadi dokumentasi karya teater, buku ini juga diharapkan menjadi ruang refleksi sosial dan kebudayaan. Resisto memperlihatkan bagaimana teater tetap relevan sebagai medium kritik, perlawanan, sekaligus pengingat atas luka-luka masyarakat yang sering terabaikan.

Dengan gaya bahasa yang puitis, satir, sekaligus dekat dengan realitas sehari-hari, Hendra Utay menempatkan teater bukan sekadar hiburan, melainkan ruang dialog yang hidup antara manusia dan zamannya.

Lebih dari sekadar kumpulan naskah, Resisto menjadi jejak ingatan tentang panggung, kegagalan, kemarahan, cinta, dan suara-suara kecil yang kerap hilang ditelan riuh zaman. Di tengah banyaknya naskah Hendra Utay yang tercecer dan tak lagi ditemukan, buku ini hadir sebagai upaya menyelamatkan serpihan perjalanan seorang pekerja teater yang hidup bersama lampu panggung, tepuk tangan, sunyi, dan perlawanan.

Pada akhirnya, Resisto mengingatkan bahwa teater bukan hanya soal pertunjukan yang selesai ketika tirai ditutup. Ia adalah cara manusia menjaga nurani, merekam luka, dan mempertahankan suara ketika dunia semakin bising oleh keserakahan dan perbudakan modern. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *