BaliDenpasarNewsPendidikan

Memperingati Hari Hartini, Bagus Arthanegara Tekankan Kaum Perempuan Berhak Mendapatkan Pendidikan yang Layak

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini. Peringatan ini identik dengan sosok Raden Ajeng Kartini yang dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia.

Hari Kartini tidak hanya menjadi momen seremonial, tetapi juga pengingat akan pentingnya kesetaraan gender, khususnya dalam bidang pendidikan dan peran perempuan di masyarakat.

Pemikiran Kartini tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan mendorongnya untuk melakukan perubahan. Ia ingin perempuan Indonesia memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai bidang.

Dalam memperingati hari Kartini, menurut Akademisi yang juga Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali, Drs. I Gusti Bagus Arthanegara, S.H., M.H., M.Pd., berangkat dari pengalaman R. A. Kartini sebagai seorang ningrat, yang mana ia tumbuh di lingkungan yang masih membatasi peran perempuan. Pada masa itu, perempuan pribumi umumnya tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi dan sering kali harus menjalani masa pingitan.

“Dari pengalaman Kartini, ia merasakan bagaimana hidup terkungkung sebagai seorang ningrat. Maka dari sanalah Kartini tergerak hatinya saat melihat kaum perempuan yang harus merasakan poligami, sekolah tidak bisa,” ujarnya.

Berangkat dari pengalaman tersebut, lanjut Arthanegara, Kartini yang sekolah di Belanda menyadari bahwa pendidikan sangatlah penting bagi kaum perempuan. Pemikiran Kartini tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan mendorongnya untuk melakukan perubahan. Ia ingin perempuan Indonesia memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai bidang.

Setelah wafat pada tahun 1904, pemikiran Kartini tetap hidup melalui tulisan-tulisannya. Surat-surat Kartini yang dikirim kepada sahabatnya di Eropa kemudian dibukukan oleh J.H. Abendanon menjadi karya berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku tersebut membuka pandangan dunia terhadap kondisi perempuan pribumi di Indonesia. Dari situlah gagasan emansipasi perempuan semakin dikenal luas dan menginspirasi perubahan sosial.

“Dari buku itu, kita menjadi tahu bagaimana keluhan seorang perempuan ketika mengalami perbedaan perlakuan. Ini kemudian diwariskan kepada generasi peremuan berikutnya, sehingga semangat juang dari para perempuan semakin tinggi. Semangat juang kaum Perempuan dalam kemerdekaan juga bermunculan seperti Cut Nyak Dien,” jelasnya.

Selain itu, kata Arthanegara, berkat perjuangan Kartini semakin banyak lagi bermunculan para pejuang perempuan di bidang pendidikan. Sekolah-sekolah khusus perempuan juga mulai bermunculan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya dimiliki oleh kaum laki-laki, tetapi perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak.

Di era sekarang, kaum perempuan yang sukses dalam berkarir semakin banyak. Menurutnya, sudah banyak kaum perempuan yang mengisi jabatan penting dalam pemerintahan. Oleh karena itu, kaum perempuan diharapkan mampu mewarisi semangat juang R.A Kartini. “Perempuan saat ini memiliki peluang besar untuk berkarir di bidang apa saja,” tutupnya. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *