BaliBudayaDenpasarNewsPendidikan

Malam Takbiran Bertepatan dengan Hari Suci Nyepi, Gusti Bagus Arthanegara: Umat Beragama Diharapkan Menjaga Toleransi

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Perayaan hari suci Nyepi Tahun Baru Caka 1948 yang bertepatan dengan malam takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah, memicu berdebatan di tengah masyarakat. Namun demikian, seluruh umat diimbau agar tetap menjaga kondusifitas dan toleransi selama perayaan hari suci Nyepi.

“Sangat disadari bahwa bangsa kita adalah bangsa yg memiliki Kebhinekaan, pemersatu dari segala perbedaan yaitu Pancasila,” ungkap Drs. I Gusti Bagus Arthanegara, S.H., M.H., M.Pd., selaku Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali, Kamis (12/03/2026).

Arthanegara menjelaskan, bahwa semangat gotong-royong sangat diperlukan dalam menjaga Kebhinekaan. Jika masyarakat tidak bisa melakukan toleransi pasti akan berbahaya bagi keharmonisan antar umat beragama. Toleransi tersebut tidak hanya berlaku di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Adanya toleransi yang tinggi, bisa dijadikan momentum untuk merayakan hari keagamaan bersama-sama.

“Toleransi telah dibina sejak jaman dahulu. Seperti adanya Pura Demak, Pura Seseh dan adanya Palinggih Ratu Subandar. Dari sanalah kita melihat bahwa sejak jaman dahulu toleransi telah diwariskan,” ujarnya.

Berkaitan dengan hari raya Nyepi, lanjut Arthanegara, toleransi telah dilakukan sejak dahulu. Hal ini dibuktikan adanya tradisi ngejot antara umat beragama. Semua ini karena bangsa Indonesia memiliki Pancasila.

“Pancasila telah melahirkan banyak toleransi. Misalnya, pecalang Bali yang sering dilibatkan dalam pengamanan hari raya keagaaman selain Hindu. Tidak ada alasan bagi umat untuk mengabaikan rasa toleransi,” tegasnya.

Untuk itu, toleransi harus dilakukan sebaik-baiknya. Imbauan dari pihak terkait sudah diedarkan untuk menjaga toleransi. Jika sampai ada pergesekan, maka dianggap tidak menghayati nilai-nilai Pancasila. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *