Full Moon Art Exhibition, Aboetd Art Hadirkan Pameran sebagai Ruang Reflektif Bukan hanya bagi Seniman, Tetapi juga untuk Publik

GIANYAR, STATEMENTPOST.COM – Setelah sukses menggelar pameran lukisan bertajuk Kebangkitan Seni Warna Indonesia beberapa waktu lalu, I Kadek Rudiantara alias Aboetd Art kembali membuat gebrakan dengan menyelenggarakan pameran Full Moon Art Exhibition, pada Selasa (3/3/2026), di Café Sentosa, Jalan Raya Bona, Blahbatuh, Gianyar. Pameran lukisan ini bertepatan dengan bulan purnama, sehingga mengusung tema “Dalam Simfoni Purnama – Ketika Purnama Menyentuh Kegilaan yang Sadar, Ada luka yang berubah menjadi warna, Ada sunyi yang menjelma Cahaya”.
Bulan purnama selalu hadir tanpa suara, namun cahayanya mampu menyentuh bagian terdalam dari jiwa manusia. Begitu pula seni lukis. Seni lahir dari ruang-ruang sunyi yang sering tak terlihat. Ia tumbuh dari kegelisahan, kerinduan, harapan, dan cahaya kecil yang menetap di dalam dada. Seperti bulan purnama yang memantulkan cahaya matahari, lukisan pun memantulkan cahaya batin sang perupa. Apa yang tampak di atas kanvas sejatinya adalah gema dari perjalanan jiwa. Bulan purnama mengajarkan tentang keutuhan. Tentang fase-fase kehidupan yang terus berubah, namun selalu menuju kesempurnaan pada waktunya.
Dalam konteks kebudayaan Bali, purnama bukan hanya fenomena astronomi. Ia adalah momentum spiritual. Setiap purnama, umat Hindu Bali menghaturkan persembahyangan, membersihkan diri lahir dan batin, serta memohon keseimbangan hidup (Tri Hita Karana).

Di sinilah gagasan Full Moon Art Exhibition menemukan kedalaman maknanya. Aboetd art tidak sekadar menjadikan bulan sebagai objek visual atau dekoratif. Ia hadir sebagai simbol kesadaran kreatif. Bulan purnama dipahami sebagai metafora proses penciptaan seni — sebuah perjalanan dari kegelapan menuju terang, dari potensi menuju kepenuhan, dari sunyi menuju ungkapan. Aboetd art menghadirkan pameran ini sebagai ruang reflektif — bukan hanya bagi seniman, tetapi juga bagi publik. Di tengah dunia yang bergerak cepat, penuh distraksi, dan sering kali kehilangan keheningan, purnama mengingatkan kita untuk melambat. Untuk merasakan.
Namun, pameran ini bukan tentang menggambar bulan, melainkan tentang energi purnama — tentang momen ketika sesuatu di dalam diri mencapai klimaksnya. Dan dalam konteks ini, Aboetd Art berdiri sebagai sosok yang unik, yaitu “Seniman Gila yang Sadar Dirinya Gila”. Kata “gila” sering dipahami sebagai kehilangan kendali. Tetapi dalam sejarah seni, kegilaan sering justru menjadi bentuk kesadaran paling radikal. Aboetd Art tidak melukis untuk menyenangkan mata. Ia melukis untuk menyatakan keberadaan. Dan di situlah “kegilaan” itu menemukan maknanya. Aboetd Art adalah seniman yang sadar bahwa dunia terlalu rapi untuk sepenuhnya jujur. Terlalu teratur untuk sepenuhnya hidup. Maka ia memilih jalur ekspresif. Jalur yang liar. Jalur yang tidak selalu nyaman.
Di sela-sela kegiatan pameran, Aboetd Art mengungkapkan, bahwa pameran ini sekaligus merespon permintaan Ajik Adnyana untuk menggelar pameran di restonya. Kemudian, disepakati mengadakan pameran tepat saat bulan purnama, sebagai hari baik bagi umat Hindu di Bali. Full Moon Art Exhibition akan dilaksanakan selama satu bulan. Jika respon publik bagus, maka pameran ini akan digelar secara berkelanjutan.
“Pameran ini kita persiapkan hanya dalam waktu sehari. Konsep pameran ini semuanya saya kreasikan sendiri. Dan karya saya yang paling banyak disini, namun tidak dipasang di dinding, melainkan di alam. Pameran ini saya konsep sangat sederhana dan santai,” jelas Aboetd.

Full Moon Art Exhibition dibuka secara resmi oleh Tokoh Spiritual Bali, Ida Bagus Made Arjawa (Cuing Ped). Dalam kesempatan tersebut, ia menyambut baik pameran yang diinisiasi oleh Aboetd. Menurutnya, sosok Aboetd memiliki talenta yang sangat luar biasa, yang diperoleh dari vibrasi alam.
“Menurut saya, ini teori bangsing karena sifatnya yang alami (sesuai keinginannya). Saya turut berbangga kepada Aboetd, karena sudah mempercayakan cuing ped untuk membuka acara pamerannya,” ujarnya sambil tertawa.
Menggelar pameran saat bulan purnama, lanjutnya, memiliki makna yang bersinar dalam kegelapan. Oleh karena itu, Aboetd sendiri sudah memiliki nilai lebih untuk merangkul rekan-rekannya berkolaborasi dalam melaksanakan pameran ini.
“Saya sangat senang Aboetd sudah mau melangkah. Ketika sudah mau melangkah, tentu akan mendapatkan berkah,” pungkasnya. (stm)
