Small is Beautiful, Upaya Kecil Namun Mampu Berdampak dan Berdaya Ubah Bersihkan Sampah di Destinasi Pantai

BADUNG, STATEMENTPOST.COM – Ratusan masyarakat yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dan Keluarga Besar Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ada di Bali mengikuti gerakan bersih-bersih pantai, pada Minggu (8/2/2026).
Seperti diketahui bersama, pada musim angin barat atau sering disebut west monsoon pantai Seminyak, Legian dan Kuta (Samigita) mendapatkan sampah kiriman hingga 200 sampai 215 ton perhari. Oleh karena itu, perlu adanya gerakan bersama untuk menjaga pantai sebagai destinasi internasional untuk tetap bersih dan nyaman dinikmati oleh para wisatawan.
Menurut Inisiator Gerakan yang juga Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung, I Wayan Puspa Negara, jumlah sampah yang sangat besar dan sulit dipilah, sehingga diperlukan teknologi yang lebih besar untuk mengambil sampah yang ada di tengah laut. Oleh sebab itu, perlu sinergi antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk menyelesaikan masalah sampah di destinasi pariwisata.
“Menyelesaikan masalah sampah tidak boleh secara parsial. Kalau berbicara kewenangan, kalau sampah ada di laut ada di wilayah Kementerian, kemudian sampah itu menepi ada di wilayah provinsi, selanjutnya sampah masuk ke daratan menjadi wilayah kabupaten. Dengan ini, maka semua energi harus dilibatkan bersama-sama. Kita harus bersinergi untuk menyelesaikan masalah sampah di destinasi, agar tidak diberikan statement oleh Fodor’s Travel bahwa Bali tak layak dikunjungi pada tahun 2025 karena masalah sampah,” papar Puspa Negara.
Lebih lanjut Puspa Negara menekankan, bahwa sekecil apapun upaya gerakan menjaga kebersihan pantai harus tetap dijaga. Small is beautiful, upaya yang kecil namun mampu berdampak dan berdaya ubah.
“Daya ubah yang kita maksud adalah pantai ini tetap bersih. Karena standar sebuah destinasi itu ada empat, yaitu facilities, safety, service dan promotion. Service atau pelayanan salah satunya mengacu pada kebersihan,” tegasnya.
Sementara itu, Penglingsir Diaspora NTT Bali, Yosep Yulius Diaz mengungkapkan, gerakan ini merupakan panggilan hati untuk bersama-sama ikut memerangi masalah sampah di destinasi pariwisata. Meskipun kecil, upaya ini tentu harus dilakukan bersama-sama untuk menjaga lingkungan.
“Inilah wujud nyata kami sebagai diaspora NTT yang tinggal di Bali. Hal ini juga sejalan dengan imbauan Wakil Gubernur NTT yang beberapa waktu lalu mengunjungi kami di Bali. Semua hal besar dimulai dari yang kecil,” ujarnya.
Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, Zainal Tayyeb mengatakan, kegiatan ini bukan yang pertama kalinya, melainkan sudah pernah dilakukan 2-3 minggu sebelumnya. Ia berharap melalui kegiatan ini dapat membantu membersihkan sampah di pantai, sehingga kembali menarik wisatawan untuk datang ke pantai Legian. (stm)
