Fakultas Kedokteran Undhira Luluskan 41 Fisioterapis Profesional, Siap Dilepas ke Dunia Kerja

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Kedokteran, Universitas Dhyana Pura (Undhira) Bali, kembali meluluskan 41 orang fisioterapis profesional. Lulusan angkatan kedua ini pun siap dilepas ke dunia kerja ditandai dengan prosesi angkat sumpah, bertempat di Hotel Nirmala, Denpasar, Jumat (30/1/2026).
Dekan Fakultas Kedokteran Undhira Dr. dr. Putu Asih Primatanti, Sp.KJ didampingi Kaprodi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Daryono, M.Erg., Ftr., menjelaskan, Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis ini adalah lanjutan dari S1 Fisioterapi yang berfokus menghasilkan fisioterapis kompeten, khususnya di bidang kebugaran promotif, preventif, dan kesehatan pariwisata.
Program ini menawarkan fasilitas lab lengkap (muskuloskeletal, pediatri, elektro fisis) dan prospek kerja sebagai praktisi di rumah sakit, klinik, atau mandiri.
Soal kualitas lulusannya, dr. Asih Primatanti berani memberikan garansi, sebab mereka telah dinyatakan lulus kompetensi setelah mengikuti uji kompetensi nasional beruap CBT & OSCE.
Selain itu, lulusannya juga telah menyelesaikan ujian di setiap lahan praktik, berupa ujian review jurnal dan ujian satuan klinis. “Totalnya ada 11 stase wajib dan 1 stase pilihan. Kalau total se-Bali ada 14 wahana praktik,” kata dr. Asih Primatanti.
Seiring dengan perkembangan artificial intelegensi (AI) atau era kecerdasan buatan, dekan meminta para lulusannya untuk adaptif, serta membangun kolaborasi dengan profesi lainnya.
“Karena sekarang eranya AI ya harus adaptif. Misalnya melakukan diagnosa dan konsultasi lewat digital. Yang tak kalah penting juga bangunlah kolaborasi dengan profesi lain agar Undhira turut berkontribusi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” pinta dekan.
dr. Asih Primatanti menambahkan, kebutuhan fisioterapis di Bali dan Indonesia umumnya, masih sangat terbuka. Apalagi proporsinya kurang merata. Jadi lulusannya diharapkan melihat celah-celah yang belum terisi.
Sebagai insan tenaga kesehatan, menurutnya, yang harus ditekankan adalah visi kemanusiaan. “Di manapun lulusan kami bekerja, atau membuka praktik mandiri harus menjunjung tinggi visi kemanusiaan karena sesungguhnya kita ini mengabdi,” kata dr. Asih Primatanti.
Fisioterapi merupakan bidang ilmu kesehatan yang unik karena memadukan seni, keahlian medis dan kemampuan komunikasi yang baik untuk memotivasi pasien.
Salah satu lulusan, I Gede Agus Vidi Kristiawan, mengaku sangat bangga menjadi lulusan Pendidikan Profesi Fisioterapis Undhira. Agus yang berasal dari Kintamani ini sebelumnya juga menempuh pendidikan Sarjana Fisioterapi di Undhira.
Agus mengatakan ketika lulus sarjana langsung terserap dunia kerja. “Saya langsung dapat kerja di sebuah klinik kesehatan di Ubud,” jelasnya.
Setelah lulus Pendidikan Profesi Fisioterapis, Agus berencana membuka praktik mandiri di kampung halamannya. Sebab di daerah Kintamani belum banyak ditemukan layanan fisioterapi.
Pada kesempatan yang sama, lulusan lainnya I Dewa Ayu Felicya D. bahkan sudah punya tempat praktik mandiri di Gianyar. Cya, sapaan karibnya, ingin mengabdikan ilmunya untuk masyarakat luas.
Cya juga ingin menepis bahwa layanan fisioterapi bersifat eksklusif. Padahal biaya-nya relatif terjangkau. Ia mengingatkan, layanan fisioterapi tidak hanya dibutuhkan oleh orang yang sakit, tetapi orang yang bugar untuk perawatan diri.
“Kami punya modalitas berupa peralatan-peralatan medis dan didukung kemampuan akademik jadi kami memangani pasien secara profesional,” tegas Cya.
Adapun tiga lulusan terbaik kali ini, yakni Gusi Ayu Indah Yudira Putri, S.Kes., Ftr., I Gusti Lanang Wahyu Artha, S.Kes., Ftr., serta Reagon Zoren Herdad S. Arbaan, PT., Ftr. (stm)
