BaliEkonomiPendidikanSosbud

Akuntansi Humanis Berbasis Kearifan Lokal dan Literasi Digital

Oleh: I Putu Julianto

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Akuntansi Universitas Pendidikan Ganesha

STATEMENTPOST.COM – Akuntansi selama ini sering dipahami sebagai sistem teknis yang netral, objektif, dan universal—sekadar alat untuk mencatat, mengukur, dan melaporkan transaksi keuangan. Namun, pandangan tersebut kini mulai bergeser. Di era modern, akuntansi tidak lagi berdiri di ruang hampa; ia merupakan produk sosial dan budaya yang merefleksikan nilai, norma, serta kearifan lokal suatu masyarakat. Selain itu, kemajuan teknologi digital telah mengubah wajah profesi akuntan secara drastis. Oleh karena itu, akuntansi masa kini idealnya berakar pada nilai-nilai sosial budaya dan spiritual, sembari menguasai literasi digital agar tetap relevan dan bermakna.

Akuntansi sebagai Cerminan Nilai Sosiokultural

Dalam konteks Indonesia yang kaya akan budaya dan nilai kebersamaan, akuntansi tidak hanya berfungsi untuk efisiensi ekonomi, tetapi juga untuk menciptakan keadilan sosial. Nilai gotong royong dan solidaritas dapat menjadi dasar dalam praktik akuntansi yang menekankan keseimbangan dan kesejahteraan bersama. Misalnya, dalam koperasi, sistem akuntansi dirancang agar keuntungan didistribusikan secara adil kepada anggota. Pendekatan ini menunjukkan bahwa akuntansi bukan sekadar alat ekonomi, melainkan juga sarana memperkuat nilai kemanusiaan dan tanggung jawab sosial.

Namun, globalisasi dan penerapan standar internasional seperti IFRS sering kali membuat praktik akuntansi terlepas dari akar sosial budayanya. Oleh karena itu, akuntansi berbasis sosiokultural hadir sebagai upaya mengembalikan dimensi kemanusiaan profesi akuntan, agar praktiknya tetap relevan dengan nilai dan identitas lokal bangsa Indonesia.

Tri Hita Karana: Landasan Etika dan Spiritualitas Akuntansi

Nilai-nilai luhur bangsa dapat menjadi pedoman moral bagi akuntansi berkelanjutan. Salah satu contohnya adalah konsep Tri Hita Karana dari Bali yang menekankan harmoni antara hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam (Palemahan). Dalam konteks akuntansi:

  • Parhyangan menuntun akuntan untuk bekerja dengan kejujuran, rasa syukur, dan tanggung jawab moral kepada Tuhan.
  • Pawongan mendorong transparansi dan keadilan dalam penyajian laporan keuangan agar tercipta kepercayaan antar pihak.
  • Palemahan mengingatkan bahwa kegiatan ekonomi harus memperhatikan keseimbangan alam melalui praktik environmental accounting dan sustainability reporting.

Penerapan Tri Hita Karana menjadikan akuntansi lebih bermakna: bukan hanya mencatat angka, tetapi juga menjaga keseimbangan spiritual, sosial, dan ekologis.

Literasi Digital sebagai Pilar Akuntansi Modern

Perkembangan teknologi informasi membawa revolusi besar dalam dunia akuntansi. Proses pencatatan, pelaporan, hingga analisis keuangan kini dilakukan secara digital menggunakan sistem seperti SAP, Xero, dan aplikasi berbasis cloud. Untuk menghadapi transformasi ini, akuntan dituntut memiliki literasi digital yang tinggi—bukan hanya mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga memahami etika, keamanan data, dan tanggung jawab dalam penggunaannya.

Literasi digital tidak hanya meningkatkan efisiensi dan akurasi, tetapi juga memperkuat transparansi serta integritas laporan keuangan. Di sisi lain, tantangan seperti keamanan siber dan kebocoran data menuntut akuntan untuk memahami prinsip-prinsip etika digital agar tidak terjebak pada praktik manipulatif atau penyalahgunaan informasi.

Lembaga pendidikan dan organisasi profesi perlu menyesuaikan kurikulum serta pelatihan untuk menyiapkan akuntan yang melek digital dan beretika. Dengan begitu, profesi akuntan dapat berkembang selaras dengan kemajuan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai moral dan kemanusiaan.

Menuju Akuntansi Humanis dan Berkelanjutan

Menggabungkan nilai-nilai lokal seperti Tri Hita Karana, semangat sosiokultural, dan kemampuan literasi digital akan melahirkan paradigma baru: akuntansi humanis. Paradigma ini menempatkan manusia, moralitas, dan keseimbangan lingkungan di pusat praktik akuntansi. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, akuntansi humanis menjadi jembatan antara modernitas dan kearifan lokal—menjadikan profesi akuntan tidak hanya efisien secara teknologi, tetapi juga bermartabat secara sosial dan spiritual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *