DenpasarPendidikanSosbud

Menghidupkan Sastra di Panggung Ekspresi: Lomba Baca Buku ‘Nyonya Suartini’ Teater Sastra Welang Bali

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Gelaran Lomba Virtual Baca Cerpen Buku Nyonya Suartini karya Luh Arik Sariadi yang diselenggarakan oleh Teater Sastra Welang (TSW) berakhir sukses pada Sabtu, 15 Desember 2025. Kompetisi yang diikuti oleh 17 peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini tidak hanya menjadi ajang unjuk bakat, tetapi juga perayaan interpretasi mendalam terhadap karya terbaru dari penulis yang juga seorang guru Bahasa Indonesia tersebut.

Setelah melalui proses penjurian yang ketat di Denpasar, Bali, Dewan Juri yang terdiri dari penyair Pranita Dewi, penyair Putu Mahaputri dan penulis Nyonya Suartini sendiri, Luh Arik Sariadi akhirnya memutuskan nama-nama yang berhak atas gelar juara. Posisi Juara I berhasil direbut oleh Akbar Juliana dari Bandung. Disusul oleh Linda Ayu Darmurtika dari Mataram sebagai Juara II, dan Tegsa Teguh Satriyo  dari Semarang menempati posisi Juara III.

Sementara itu, kategori Juara Harapan juga diisi oleh bakat-bakat menjanjikan. Harapan I diraih oleh Reza Ramadhan dari Denpasar, Harapan II oleh Adib Faydhurahman dari Situbondo, dan Harapan III disabet oleh Nyoman Pandu Jaya dari Singaraja.

Buku Nyonya Suartini adalah kumpulan cerpen perdana Luh Arik Sariadi yang diterbitkan oleh TSW, menyajikan 16 cerita yang ditulis sepanjang perjalanan kreatif penulis selama 17 tahun, dari tahun 2008 hingga 2025.

Luh Arik Sariadi, seorang guru Bahasa Indonesia di SMK Negeri 3 Singaraja sejak 2007, dikenal memiliki rekam jejak panjang di dunia sastra dan drama. Bukunya merefleksikan potret mendalam tentang manusia dan pergulatan sosialnya di tengah masyarakat modern. Kisah-kisahnya menyelami beragam tokoh yang bergumul dengan pekerjaan, hubungan keluarga, dinamika sosial, hingga persoalan ketidakadilan dan pencarian makna kebahagiaan.

Lomba Baca Cerpen Nyonya Suartini pada akhirnya menjadi perayaan keindahan sastra dan performa: sebuah ruang di mana kata-kata mendapatkan nyawa, emosi menjadi bahasa, dan pembacaan cerpen berubah menjadi seni yang utuh. Teater Sastra Welang menyampaikan apresiasi tertinggi kepada seluruh peserta dan pihak yang terlibat dalam menyemarakkan jagat ranah susastra. (stm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *