Bincang Buku “Awas Kucing Hilang (Lalat Cintaku)”, Kumpulan Cerpen Terbaru Karya Rayni N. Massardi

DENPASAR, STATEMENTPOST.COM – Program Sastra Bentara kembali hadir dengan nuansa reflektif dan jenaka melalui Bincang Buku “Awas Kucing Hilang (Lalat Cintaku)”, kumpulan cerpen terbaru karya Rayni N. Massardi. Bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali dan Gramedia, Bincang Buku ini digelar pada Minggu, 16 November 2025, di Toko Buku Gramedia Teuku Umar, Denpasar. Kegiatan ini juga menghadirkan pembahas Made Edy Arudi, penyair sekaligus guru di SMK Negeri 1 Sukasada.
Buku setebal lebih dari seratus halaman ini memuat 13 cerita pendek klasik yang direvisi dan disegarkan kembali oleh pengarangnya, ditambah satu cerpen baru berjudul Orangutan Bima. Seperti karya-karya Rayni sebelumnya, kisah-kisah ini bukan sekadar dongeng binatang, melainkan fabel satiris yang menyingkap wajah manusia lewat karakter hewan, dari anjing, kelinci, semut, hingga monster.
Menurut Rayni, buku “Awas Kucing Hilang (Lalat Cintaku)” merupakan kumpulan cerpen sekitar 10 tahun yang lalu kembali diupdate, dengan rasa dan alur cerita yang berbeda serta semua tokohnya memakai peran hewan. Selain itu, dalam cerita ini ada point of view dari manusia kepada hewan.
“Konsep awal dari buku ini adalah menceritakan tentang perilaku kita sebagai manusia. Baik dari permasalahan bersama keluarga dan sekitarnya, berjuang untuk hidup, tapi ini diperankan oleh hewan sebagai metafornya,” ungkapnya.
Diterbitkan oleh Firaz Media dan dilengkapi ilustrasi Christyan AS, Awas Kucing Hilang (Lalat Cintaku) menjadi bentuk ekspresi sastra dan seni rupa yang berpadu. Desain sampul digarap Nanang Gani, sementara tata letak dikerjakan oleh Enggar Putri.
Sementara itu, Christyan AS selaku Ilustrator dalam buku ini menuturkan bahwa selama penggarapan buku Awas Kucing Hilang (Lalat Cintaku) tidak dijumpai kendala. Namun, ia mencoba mengikuti semangat penulisan dari Rayni N. Massardi, seperti dengan menyegarkan kembali karya-karya yang sudah lama.
“Tidak hanya karya Rayni yang disegarkan kembali, tetapi karya ilustrasi saya yang sudah lama kembali disegarkan baik melali digital maupu AI. Jadi, saya mencoba mengikut semangat Rayni dalam menulis buku cerpen ini,” terangnya.

Made Edy Arudi menjelaskan, kehadiran kumpulan cerpen “Awas Kucing Hilang-lalat cintaku” ini banyak menghadirkan hal baru yang tidak bisa diprediksi sebelumnya oleh pembaca. Ketika orang-orang membaca cerpen, mereka akan terkonsep dengan pola atau aturan penulisan cerpen secara umum.
“Dari tatapan sekilas tentang buku ini, ketika pembaca baru hanya membolak-balik judul dan isi buku, pikirannya akan dibuat “kacau” dan ini sangat bagus, sebab menimbulkan daya tarik tersendiri bagi pembaca untuk lebih mendalami isi buku. Inilah hebatnya sosok penulis Rayny N Masardi ini,” jelasnya.
Dengan semangat lintas generasi, Bentara Budaya Bali dan Gramedia menghadirkan bincang buku ini sebagai ruang temu antara sastra, ilustrasi, dan kehidupan sehari-hari, menegaskan bahwa kisah seekor kucing, lalat, atau orangutan pun bisa memantulkan wajah kemanusiaan kita sendiri. Karya-karya Rayni dalam buku ini dapat memberikan pembaharuan naratif yang menempatkan fabel sebagai cermin sosial dan spiritual manusia. (stm)
